Harapan dari Timur: Mahasiswi Papua Jadi Dokter untuk Daerahnya

oleh -316 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Septina Ulunggi, mahasiswi baru Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, memiliki misi mulia. Berasal dari Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, Septina ingin menjadi dokter untuk mengatasi kelangkaan tenaga medis di kampung halamannya. Kisahnya menjadi salah satu sorotan dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FK Untag Surabaya yang berlangsung pada 3–4 September 2025.

​Septina menuturkan alasan kuatnya memilih profesi ini. “Di daerah saya, sangat sulit mencari dokter medis. Saya berharap bisa berkontribusi untuk masyarakat karena tidak banyak tenaga medis yang bekerja di sana. Itulah alasan saya ingin menjadi dokter,” ungkapnya.

Dekan FK Untag Surabaya, dr. Poerwadi, Sp.B., Sp.BA., Subsp. D.A.(K), menegaskan komitmen fakultas untuk mencetak dokter yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki jiwa patriotik dan kemanusiaan. “Lakukan segalanya dengan hati, bukan sekadar mengerti tetapi juga benar-benar memahami. Penting sekali bagi seorang dokter untuk menjadi humanis, memiliki simpati dan empati dalam menjalankan tugas,” pesannya. Sebagai dokter spesialis bedah anak dengan pengalaman luas, termasuk menangani ratusan kasus operasi bayi kembar siam, dr. Poerwadi menekankan pentingnya sentuhan humanis dalam dunia medis.

​Senada dengan itu, dr. Dewi Kusumawati, Sp.DVE, Kaprodi Profesi Dokter, memberikan motivasi kepada para mahasiswa baru untuk mencintai proses belajar. “Biasakanlah mencintai proses belajar. Menjadi seorang dokter adalah tentang selalu belajar, sepanjang hayat,” ujarnya.

​Pada hari kedua PKKMB, dr. Adinda Istantina, Sp.KJ, menekankan pentingnya menjaga kesehatan jiwa. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian tahun 2018, mahasiswa kedokteran memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap gangguan jiwa. “Di Untag Surabaya, kami berkomitmen menghadirkan pendidikan kedokteran yang humanis dan nyaman. Ketika kalian mengenal kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman dalam diri, dan menyusun skala prioritas maka kalian bisa lebih mudah untuk menjalani kehidupan akademik dengan seimbang,” tegasnya.

Baca Juga :  Yusril Dorong Pembaruan Hukum Keperdataan Nasional Adaptif dan Berkeadilan

Acara PKKMB ditutup dengan sesi kebersamaan yang mengharukan, di mana mahasiswa dan dosen berbagi cerita pribadi. Ada yang bercerita tentang runtuhnya keluarga, masalah ekonomi, hingga perjuangan bertahan dalam keterbatasan. Semua itu membentuk ikatan emosional yang kuat dan menumbuhkan rasa solidaritas di antara mereka.

​FK Untag Surabaya akhirnya berdiri setelah perjuangan selama tujuh tahun. Komitmennya untuk menghadirkan pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau bertujuan untuk membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Kelahiran angkatan pertama ini membawa harapan baru, terutama bagi daerah-daerah seperti Yahukimo, tempat Septina Ulunggi berjuang untuk masa depan.(tok)