Dari Santri ke Dokter, Quddus Salam Pelopor Poskestren di Madura

oleh -1269 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Di balik senyum lega Quddus Salam saat diambil sumpah pada acara Sumpah Dokter ke-13 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (28/8/2025), tersimpan kisah perjuangan panjang. Anak seorang kiai dari Bangkalan ini kini resmi menjadi dokter pertama dalam keluarganya sekaligus pelopor lahirnya Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).

Sejak SMA, Quddus tak pernah membayangkan dirinya mengenakan jas putih seorang dokter. Ia justru bercita-cita menjadi guru bahasa Arab. Namun orang tuanya melihat potensi lain. “Orang tua melihat saya unggul di pelajaran kimia. Dari situ mereka mengarahkan agar saya menjadi dokter. Awalnya saya hanya mencoba mengikuti, tapi Alhamdulillah sekarang saya justru jadi dokter pertama di keluarga,” tuturnya sambil tersenyum.

Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia sempat ragu dengan pilihannya hingga menemukan titik balik pada semester lima saat berjumpa dengan mata kuliah kejiwaan. “Sejak SMP saya suka baca tentang psikologi. Ketika kuliah ada mata kuliah kejiwaan, saya seperti menemukan kembali apa yang saya senangi. Dari situlah saya mantap mencintai dunia kedokteran,” kenangnya.

Latar belakang keluarga pesantren turut memengaruhi jalan hidupnya. Ayahnya, KH. Lainul Qolbi Hamzah, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin, menjadi inspirasi untuk menghubungkan pendidikan agama dengan literasi kesehatan. “Awalnya saat pandemi Covid-19, saya dan teman-teman melakukan penelitian di pondok. Dari situ saya coba membuat wadah. Akhirnya pondok bermitra dengan Unusa dan lahirlah Poskestren,” jelas putra pasangan Lainul Qolbi Hamzah dan Elok Fauziyah itu.

Sejak 2022, Poskestren yang dipelopori Quddus berkembang pesat. Para santri kini punya tim khusus untuk mengelola kesehatan pesantren secara mandiri. Edukasi pun meluas, mulai dari gizi, obat tradisional, pencegahan penyakit menular, hingga pola hidup bersih. “Bersyukur saat ini sudah ada tim sendiri dari anak-anak santri yang melanjutkan program. Jadi budaya hidup sehat di pesantren mulai terbentuk dengan baik,” ujar pria kelahiran Bangkalan, 26 April 2001 itu.

Baca Juga :  Dari Pangan hingga Energi Terbarukan, Pramuka Produktif Jadi Arah Baru Kwarda Jatim

Lebih jauh, Quddus memperkenalkan digitalisasi sederhana dalam pencatatan rekam medis santri. Langkah ini membuat pengelolaan kesehatan di pesantren lebih rapi dan berkelanjutan. “Alhamdulillah awareness santri soal kesehatan sangat meningkat. Pesan abah saya jelas: kita harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Itu yang selalu saya pegang,” ucapnya haru.

Kini, setelah resmi menjadi dokter, Quddus berkomitmen memperluas pengabdian. Baginya, profesi ini bukan sekadar karier, melainkan jalan ibadah. “Saya ingin terus mengembangkan Poskestren dan berkontribusi untuk masyarakat. Menjadi dokter bagi saya adalah ladang keberkahan,” pungkas Quddus.(tok)