Kemarau Basah, Harga Tembakau Rajang di Bojonegoro Anjlok

oleh -885 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bojonegoro – Kemarau basah atau kemarau yang tidak sepenuhnya kering, dan masih terjadi hujan meski intensitasnya lebih rendah berdampak pada harga termbakau rajang kering di Bojonegoro.

Harga tembakau rajang kering sempat menyentuh harga Rp45.000 perkilogramnya pada sepekan yang lalu. Namun, pasca hujan deras selama dua hari berturut-turut pada 19-20 Agustus kemarin, harga tembakau kering langsung anjlok menjadi Rp35.000 perkilogramnya.

Hal itu disebabkan akibat kualitas tembakau rajang kering yang kurang bagus akibat suhu yang terlalu lembab, sehingga tembakau terlihat hitam keabu-abuan. Selain itu alasan pabrik menghentikan sementara pengambilan tembakau rajang kering.

“Petik daun tembakau pertama itu sudah laku Rp40.000 perkilogram. Kemudian petik daun kedua dan ketiga Rp45.000 perkilogram karena hasil rajangan lebih bagus, tetapi setelah adanya hujan kemarin langsung turun harganya. Ya dengan berbagai alasan tengkulak turunnya harga itu,” keluh salah satu petani Simorejo Kecamatan Kanor, Solikhun Senin, (25/8/25).

Selain harganya turun, para petani juga mengeluh banyaknya tembakau di areal persawahan yang mati akibat tingginya curah hujan yang terjadi kemarin.

“Dua hari hujan persawahan banyak yang tergenang air, 30 persen tembakau di desa kami mati. Sulit tahun ini bertanam tembakau, sejak awal sering terjadi hujan, jadi sering mati tembakaunya. Katanya kemarau basah saya melihat di televisi,” jelasnya.

Kemarau basah memang fenomena cuaca yang unik, di mana musim kemarau tidak sepenuhnya kering, tetapi masih terjadi hujan dengan intensitas yang lebih rendah dibandingkan musim hujan. Perubahan pola angin, peningkatan kelembaban udara, dan fenomena cuaca global seperti El Nino atau La Nina dapat menjadi penyebab kemarau basah.

Selain petani tembakau, para petani padi juga was-was akibat dampak cuaca ekstrem yang terjadi, terutama para petani padi yang berada di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo hilir Bojonegoro mulai, Kecamatan Balen, Kanor dan Baureno.

Baca Juga :  Temani Langkah Anak Pedalaman Meraih Cita, Insan Bumi Mandiri Bagikan Sepatu ke Pedalaman Papua

Para petani khawatir harga gabah basah juga ikut turun saat masa panen raya tiba yang akan berlangsung sekitar sebulan lagi. Harga gabah basah dari sawah sempat mencapai Rp8.000 perkilogram, namun harga itu dapat berubah-ubah sewaktu-waktu yang disebabkan cuaca maupun jumlah pasokan.

“Akhir bulan 9 dan awal bulan 10 mendatang panen raya untuk wilayah bantaran Sungai Bengawan Solo, kami berharap harganya tinggi,” kata Camat Kanor Faishol Ahmadi dihubungi terpisah.(had)

No More Posts Available.

No more pages to load.