KILASJATIM.COM, Surabaya – Deddy Dacosta, mantan atlet tenis meja nasional dan pelatih berdedikasi, kini memimpin misi membawa kembali kejayaan Jawa Timur sebagai pusat atlet tenis meja Indonesia.
Dengan reputasi tiga kali juara SEA Games dan latar belakang pengalaman dari Kalimantan Timur hingga Bali, Deddy kembali ke kampung halamannya di Jawa Timur dengan visi untuk membangun kembali tradisi emas provinsi tersebut dalam tenis meja.
Lahir dan besar di Surabaya, Deddy memulai perjalanannya dalam dunia tenis meja di Kudus, dibimbing oleh sang ayah yang juga pelatih. Tahun 1985, ia bergabung dengan PTM Sanjaya Gudang Garam Kediri, klub tenis meja prestisius yang melahirkan banyak legenda olahraga ini. Ia kemudian menempa prestasi dengan meraih medali emas di SEA Games tahun 1993, 1995, dan 1997, memposisikan dirinya sebagai pemain kunci dalam era keemasan tenis meja nasional.
Ketika karirnya sebagai atlet berakhir, Deddy memutuskan untuk memperluas pengalamannya dengan pindah ke Kalimantan Timur pada 2007 dan memperkuat provinsi tersebut di ajang PON. Meski hanya meraih perak pada 2008, pengalaman tersebut melambungkan karir Deddy ke arah baru: menjadi pelatih. Mulai tahun 2010, ia membina atlet di sebuah sekolah internasional di Samarinda. “Menjadi atlet dan pelatih itu dua hal yang sangat berbeda.
Tapi keduanya butuh semangat juang yang sama,” tutur Deddy, yang pada tahun 2019 memutuskan pindah ke Bali. Meski provinsi ini bukan pusat tenis meja, di bawah bimbingan Deddy, Bali menunjukkan peningkatan kemampuan signifikan. Pada Juni 2025, Deddy resmi kembali ke Jawa Timur. Baginya, pulang ke daerah yang pernah membesarkannya adalah sebuah tanggung jawab moral.
Deddy melihat potensi besar di Jawa Timur, terutama dari sisi teknis dan semangat juang atlet putrinya. Namun, ia mengakui bahwa pembinaan mental, disiplin, dan motivasi bagi atlet putra harus dikerjakan lebih keras. “Pembinaan yang terstruktur dan berkesinambungan adalah kunci,” ungkap Deddy.
Ia menekankan pentingnya program jangka panjang yang tidak hanya fokus pada medali, tapi juga pada karakter dan kualitas atlet sejak dini. Deddy percaya bahwa dengan sinergi antara pelatih, pengurus, dan pemerintah daerah, Jawa Timur bisa kembali menjadi kekuatan dominan dalam tenis meja, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga Asia Tenggara.
“Tenis meja itu bukan sekadar olahraga, tapi cerminan karakter. Kalau kita ingin atlet kita bermental juara, maka pembinaan harus dimulai dari dasar. Dari sekolah, dari klub, dari keluarga,” katanya. Meski bukan tugas yang mudah, Deddy percaya bahwa dengan pengalaman dan visi kuatnya, ia dapat membawa Jawa Timur kembali ke masa kejayaannya dalam tenis meja. Pada akhirnya, Deddy Dacosta bukan hanya ingin membentuk atlet, tapi juga karakter juara.(pur)




