Syngenta Luncurkan NK Perkasa Sakti: Solusi Benih Jagung Tangguh Hadapi Musim Kering dan Perubahan Iklim

oleh -1219 Dilihat

KILASJATIM.COM, Kediri – Memasuki semester kedua tahun 2025, berbagai wilayah di Indonesia mulai mengalami musim kering yang berpotensi diperparah oleh dampak perubahan iklim global. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan petani, khususnya petani jagung, terhadap penurunan produktivitas akibat kekurangan air, serangan hama, dan tekanan gulma.

Menjawab tantangan tersebut, PT Syngenta Indonesia resmi meluncurkan benih jagung hibrida berteknologi tinggi, NK Perkasa Sakti, dalam sebuah acara di Syngenta Learning Center, Kedungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Peluncuran ini dihadiri oleh Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gunawan, SP, M.Si., Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa, S.T., perwakilan dari dinas pertanian, serta lebih dari 500 petani jagung dari wilayah Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Gunawan menyampaikan apresiasi atas kontribusi Syngenta dalam pengembangan varietas jagung hibrida di Indonesia. “Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Syngenta Indonesia yang telah menghasilkan banyak varietas jagung hibrida yang sangat bermanfaat bagi petani,” ujarnya.

Gunawan juga menyampaikan bahwa benih merupakan komponen kunci dalam produksi tanaman. Hingga saat ini, telah dilepas 371 varietas jagung hibrida. Pemerintah terus mendorong kolaborasi dengan sektor swasta untuk merakit dan mengembangkan varietas unggul yang adaptif terhadap tantangan iklim dan kebutuhan pasar. Pada tahun 2025, Pemerintah menargetkan produksi jagung sebesar 16,68 juta ton pipilan kering dari luas tanam 4,26 juta hektare, dengan alokasi bantuan benih mencapai 300 ribu hektare.

Customer Business Manager Syngenta Indonesia, Nguyen Huy Cuong, menjelaskan bahwa NK Perkasa Sakti merupakan benih bioteknologi dengan keunggulan ganda, yakni tahan terhadap penggerek batang (Asian Corn Borer) dan toleran terhadap herbisida glifosat.

“Ketika musim kering datang dan cuaca semakin tidak menentu, petani membutuhkan benih yang tangguh, efisien, dan tetap produktif. NK Perkasa Sakti adalah jawaban kami untuk itu,” ujarnya.

Baca Juga :  Wagub Emil Tegas Minta Sound Horeg Tidak Terjang Aturan dan Langgar Moral

Kombinasi keunggulan ini memberikan tiga manfaat langsung bagi petani: mudah dalam perawatan selama musim kering, menguntungkan karena menekan biaya operasional dan penggunaan pestisida, serta meningkatkan hasil panen dengan meminimalkan kerusakan akibat hama dan gulma.

Imam Sujono, Seed Marketing Head Syngenta Indonesia, menegaskan bahwa kehadiran benih unggul seperti NK Perkasa Sakti sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional. “Di wilayah seperti Jawa Timur, termasuk Kabupaten Kediri yang merupakan sentra produksi jagung, potensi hasil NK Perkasa Sakti bisa mencapai 13,3 ton per hektare, atau 5–10 persen lebih tinggi dibanding varietas biasa,” jelasnya.

Efektivitas benih ini juga dirasakan langsung oleh para petani. Abubakar, petani dari Desa Menampu, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, mengaku merasakan efisiensi yang tinggi dalam pengendalian gulma dan hama. “Varietas ini lebih tahan terhadap ulat penggerek batang. Kami jadi tidak terlalu khawatir dengan serangan hama, dan hasil panennya juga lebih tinggi,” ujarnya.

Peluncuran NK Perkasa Sakti di Kediri merupakan bagian dari program nasional Syngenta Indonesia yang sebelumnya telah dilakukan di Lampung, Bone (Sulawesi Selatan), Lamongan (Jawa Timur), dan Grobogan (Jawa Tengah). Selain menyediakan benih unggul, Syngenta juga mendukung petani melalui teknologi dan pelatihan berkelanjutan.

Melalui aplikasi peTani, lebih dari 50 ribu pengguna kini dapat mengakses panduan budidaya jagung sehat dan efisien. Selain itu, Syngenta memiliki 24 Learning Centers di seluruh Indonesia yang setiap tahunnya menjangkau lebih dari 17 ribu petani.

“Syngenta berkomitmen menjadi mitra strategis bagi petani Indonesia. Sejalan dengan visi Petani MAJU, kami percaya bahwa inovasi seperti NK Perkasa Sakti akan memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tengah perubahan iklim,” pungkas Imam Sujono.(pur)

No More Posts Available.

No more pages to load.