KILASJATIM.COM, TRENGGALEK – Pengembangan ekowisata laut terus digenjot Pemkab Trenggalek dengan menggelar Mutiara Underwater Festival and Conservation (MUF-ON) 2025 di kawasan Pantai Mutiara, Kecamatan Watulimo, yang tahun ini menanam lebih dari 1.000 bibit terumbu karang.
Festival tahunan yang memasuki tahun ketiga ini tak sekadar atraksi wisata, tetapi juga menjadi instrumen nyata Trenggalek dalam menata masa depan kawasan pesisir. Program ini bagian dari strategi jangka panjang menuju Trenggalek Net Zero Carbon 2045, sebagaimana tercantum dalam RPJPD 2025–2045.
“Penanaman terumbu karang dilakukan menggunakan metode bioreeftek, yakni struktur dari batok kelapa yang ditenggelamkan sebagai habitat ikan,” ujar Sekretaris Daerah Trenggalek, Edy Soepriyanto, dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (25/6/2025).
Tahun ini, sebanyak 200 unit bioreeftek ditanam sebagai bagian dari upaya pemulihan terumbu karang yang rusak.
Evaluasi lapangan menunjukkan hasil positif. “Populasi ikan kembali meningkat, dan ekosistem laut mulai pulih,” kata Edy.
Kepala Dinas Perikanan Trenggalek, Cusi Kurniawati, menjelaskan bahwa sejak 2023, lebih dari 1.000 struktur terumbu buatan telah ditanam di perairan dangkal Pantai Mutiara. Metodenya bervariasi—dari meja karang, spider reef, hingga bioreeftek.
“Ekosistem bawah laut menunjukkan kemajuan. Kawasan taman bawah laut yang kini mencakup tiga hektare akan terus diperluas,” ujar Cusi.
Ia menambahkan, wilayah ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata selam.
Pemkab bahkan menyiapkan Mutiara Diving Center sebagai destinasi unggulan wisata bahari pesisir selatan Jawa Timur.
“Ini bukan hanya tentang daya tarik wisata, tapi juga konservasi ekosistem yang berkelanjutan,” tegasnya.
Upaya pemulihan laut ini menjadi sangat penting mengingat perairan Mutiara sempat mengalami kerusakan parah akibat praktik ilegal seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak di masa lalu.
MUF-ON 2025 juga menggandeng generasi muda lewat program edukasi lingkungan TUNAS BIRU. Sebanyak 30 pelajar dari enam SMA/SMK di Trenggalek mengikuti pelatihan konservasi laut, penanganan mamalia terdampar, hingga aksi langsung seperti penanaman cemara laut dan transplantasi terumbu karang.
Program ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Blue SEED Indonesia, Dinas Perikanan Trenggalek, dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Festival ini menjadi simbol dari arah pembangunan Trenggalek yang kini fokus pada ekonomi hijau dan biru. Tak hanya menyelamatkan lingkungan, MUF-ON mendorong pertumbuhan sektor pariwisata bahari, perikanan berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Dengan langkah terukur dan kolaboratif, Trenggalek tak hanya menanam terumbu, tapi juga harapan: bahwa laut yang sehat adalah fondasi bagi masa depan yang tangguh. (cit)

