KILASJATIM.COM, Malang– Ramadhan dan petasan dua hal yang ber sisihan. Selalu dinanti, disambut gembira para bocah, dan membuat orang tua ngelus dada.
Tiga puluh enam tahun lalu. Setiap Ramadhan kami para bocah yang tinggal di kampung menyambut gembira. Sejak pulang tarawih dan usai subuhan kami stanby di jalan. Dekat gudang dan lahan singkong.
Tangan kanan memegang mercon dan tangan satunya sepotong obat nyamuk yang menyala ujungnya. Obat nyamuk, bukan untuk mengusir nyamuk tapi menyalakan sumbu petasan alias mercon cabe, berukuran kecil tapi suaranya menggelegar.
Selain bermain petasan, melempar GE segala arah, ngawur. Biasanya kami bersembunyi dibalik semak dan lahan singkong milik tetangga. Jika ada yang melintas
kami beri kejutan.
“Duaaarrr…” Suara menggelegar. Maka pejalan kaki akan berteriak takut dan terkejut. Dan kami tertawa melihat ketakutan mereka. Tidak jarang kami dimarahi, dimaki dengan kemarahan dan kami berhamburan, lari menyelamatkan diri dari umpatan.
Diantara orang-orang yang kami kejutkan adalah Pak Kan (alm). Dulu ia terkenal galak, jika sudah marah-marah suaranya menggelegar, matanya melotot. Dan jarinya menunjuk-nunjuk dengan cincin akik sebesar telur puyuh. Sangat mengancam bagi kami, masa itu.
Ketakutan padanya, kami balas dengan lemparan petasan saat ia jalan-jalan subuh. Untuk mengancam kami, biasanya ia membawa serta anjing herder hitam yang dirantai lehernya.
“Siapa yang berani awas. Biar digigit anjing,” katanya sambil menunjukkan binatang berkaki empat yang menjulurkan lidahnya, sesekali mengeram menunjukkan gigi runcing. Ancaman itu biasanya dilakukan saat kami melintas depn rumahnya ketika berangkat sekolah.
Sesungguhnya kami takut. Kami melawan rasa takut dengan melempar petasan saat ia sendiri. Pernah juga kami lempari herder itu dengan petasan. Yang membuatnya panik dan menggonggong. Setelahnya kami berlari kencang menyelamatkan diri kemungkinan kejaran anjing.
Setelah waktu berlalu, saya bersama kawan semasa kecil merasa bersalah. Kami tidak pernah berpikir akibat dilempar petasan bisa berbahaya, terutama yang sakit jantung.
Menilik ke belakang, sejarah petasan pertama kali ditemukan oleh bangsa Tiongkok pada abad ke-9. Awalnya, petasan digunakan sebagai alat peringatan dan pertanda keberhasilan dalam berbagai acara, seperti pernikahan, kematian, dan keagamaan.
Pada abad ke-15, saat bangsa China, perantauan datang ke Indonesia untuk berdagang, sejarah petasan dan kembang api pun mulai dikenal.
Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, petasan mulai populer di kalangan masyarakat, dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan penjajah. Petasan digunakan sebagai alat perlawanan dengan cara melemparkannya ke arah pasukan Belanda.
Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, penggunaan petasan semakin berkembang. Petasan mulai dijadikan sebagai hiburan dan atraksi pada berbagai acara seperti pernikahan, ulang tahun, dan tentunya saat Ramadan dan Lebaran dibeberapa wilayah. (TQI)
