KILASJATIM.COM, Jakarta: Aurora Tech Award, penghargaan tahunan yang menghormati perempuan pendiri bisnis di negara berkembang, telah mengumumkan 120 pemenang terbaik untuk tahun 2025. Tahun ini, ada lebih dari 2.000 peserta dari 116 negara—dua kali lipat dari jumlah peserta tahun lalu. Negara dengan pendaftar terbanyak adalah Nigeria, disusul Brasil dan Amerika Serikat, serta Mesir di peringkat kedua. Pendaftar juga berasal dari Kolombia, Kenya, Inggris, India, dan Kazakhstan.
Isabella Ghassemi-Smith, kepala Aurora Tech Award, mengatakan bahwa penghargaan ini bertujuan menyoroti para pendiri perempuan berani yang siap membawa perubahan besar di berbagai industri dan negara mereka.
Dukungan terhadap inisiatif ini semakin besar, dengan jumlah mitra modal ventura (VC) yang meningkat dari 23 menjadi 35. Tahun ini, mitra baru datang dari Mesir, Brasil, dan Pakistan, menandakan pengakuan global yang lebih luas.
Healthtech menjadi sektor yang paling menonjol di antara pemenang, dengan 30 startup berfokus pada inovasi kesehatan. Selain itu, agritech dan edtech tetap relevan, sementara startup e-commerce berkembang dengan cepat. Sebagian besar startup agritech berasal dari Afrika, sedangkan startup energi terbarukan berasal dari Kolombia dan Irak.
Wahyu Ramadhan, Communication Manager inDrive Indonesia, mengapresiasi penghargaan ini.
“Penghargaan ini bisa menjadi motivasi bagi pengusaha perempuan lainnya untuk terus berinovasi dan memberikan dampak positif,” ujarnya dalam keterangan rilisnya, Selasa, 14/1/2025 .
Aurora Tech Award bukan hanya penghargaan, tetapi juga memberikan akses ke berbagai sumber daya dan peluang. Para peserta mendapat bimbingan dalam penggalangan dana, dukungan PR, hingga koneksi dengan investor. Finalis teratas akan diumumkan pada Februari 2025, dan pemenang akan dirayakan pada upacara global akhir tahun.
Tren Positif untuk Pengusaha Perempuan menurut Global Entrepreneurship Monitor (GEM), jumlah startup yang dipimpin perempuan terus meningkat. Di negara berkembang, 17% perempuan usia kerja telah menjadi pengusaha, lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju yang hanya 9%. Afrika mencatat tingkat kewirausahaan perempuan tertinggi, terutama di negara seperti Angola dan Togo.
Perubahan ini menarik minat investor global. Pada tahun 2023, negara berkembang menerima 17% dari investasi VC global. Di Afrika, investasi VC naik menjadi $6,5 miliar pada tahun 2022, meningkat pesat dibandingkan $1,3 miliar pada tahun 2020.
Startup yang dipimpin perempuan terbukti lebih efisien. Penelitian menunjukkan bahwa mereka menghasilkan 78 sen dari setiap dolar yang diinvestasikan, jauh lebih tinggi dibandingkan startup pria yang hanya menghasilkan 31 sen.
Secara lokal, bisnis perempuan berperan penting dalam menggerakkan ekonomi dan memberikan dampak sosial. Mereka memperkuat komunitas dan menginspirasi generasi muda untuk terus maju.(den)


