KILASJATIM.COM, SURABAYA – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) pada Dies Natalis ke 35 tahun, berkomitmen meningkatkan layanan pendidikan serta memberikan kesempatan bagi inovasi yang dilakukan para mahasiswanya.
Direktur PENS Aliridho Barakbah, S.Kom Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan sejumlah capaian PENS. Di usia 35 tahun ini PENS berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan karya-karya inovasi mahasiswa sebagai bagian dari LBE (Lab Based Education) yang dikembangkan di kampus. Berbagai bidang capaian dari mahasiswa hingga institusi pun turut dipaparkan beliau, yang semata-mata juga buah dari jasa para Direktur terdahulu.
“Saya menyampaikan terima kasih atas jasa-jasa para Direktur pendahulu PENS, Alm. Bapak Susanto, Bp. Mohammad Nuh, Bp. Titon Dutono, Bp. Dadet Pramadihanto dan Bp. Zainal Arief, yang turut menanamkan banyak nilai baik dalam pengembangan PENS sejak awal dibangun hingga saat ini,” terang Aliridho.
Tidak hanya itu dalam kesempatan yang sama, disampaikan pula penghargaan kepada beberapa tokoh yang berjasa mendirikan PENS, diantaranya ke beberapa dosen pendahulu, yaitu Ir.R. Henggar Budiman, MT, Ir. Sulistyo Mahargyo B, Dr.Ir. Era Purwanto, M.Eng, Ir. Yoedy Moegiharto, MT, Ir. Iskandar Zulkarnain, Ir. Sutikno, Ir. Djoko Suprajitno Rahardjo, MT, Ir. Ratna Adil MT, dan Dr.Ir. Achmad Mauludyanto, MT.
Sementara itu pada dies natalis ke 35 tahun ini PENS mengundang Dahlan Iskan untuk menyampaikan orasi ilmiah. Dahlan Iskan menyampaikan apresiasinya atas prestasi yang telah dicapai PENS hingga saat ini. “Hal ini tentunya juga melibatkan banyak pihak, termasuk pimpinan terdahulu maupun seluruh warga PENS tak terkecuali juga masyarakat. Gedungnya sangat bagus dan saya melihat cara mengelola pendidikannya juga bagus,” kata Dahlan Iskan.
Menurutnya, beberapa potensi PENS yang bisa dikembangkan lebih jauh lagi di area pengembangan kendaraan listrik hingga kelistrikan di rumah tangga, yang dalam 5-7 tahun ke depan akan menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Ide untuk melakukan konversi dari kendaraan berbahan bakar bensin ke motor listrik serta semakin murahnya harga batere membuka peluang bagi renewable energi solar panel diaplikasikan di skala rumah tangga.
Dahlan mencontohkan perkembangan mobil listrik di Tiongkok saat ini, yang sangat berbeda dibandingkan 4 tahun yang lalu saat pandemi Covid-19. “Kala itu saya belum banyak menjumpai motor listrik di Tiongkok, namun tahun ini saat saya kembali berkunjung ke sana, di ruas-ruas jalan sudah banyak dipakai mobil listrik. It’s a matter of time,” ujar Dahlan.
PENS bisa mulai mengambil peran dengan melakukan pendataan terhadap kendaraan lama/ motor lama yang bisa dikonversi. Mahasiswa semester 1 melalui MBKM digerakkan untuk melakukan survei pendataan penduduk miskin yang memiliki motor lama untuk dikonversi ke motor listrik. Hal ini merupakan langkah nyata untuk mensosialisasikan sekaligus mendukung peraturan pemerintah tentang konversi.
Dahlan Iskan berpesan agar PENS lebih menyiapkan diri ke depannya menghadapi perkembangan teknologi. Salah satunya adalah ketika masyarakat makin pintar, mampu mengakses berbagai informasi dari media sosial. Di saat masyarakat kita mulai melek, dan mampu melakukan berbagai hal hanya melalui tutorial dari kanal You tube, tentunya akan membuka persaingan yang luar biasa antar Lembaga pendidikan, maupun antara PENS sendiri dengan masyarakat.
“Di usia yang ke 35 ini PENS harus juga melihat bahwa masyarakat ini sudah makin pinter. Kalau PENS nya tidak makin pinter lagi nanti akan ditinggalkan oleh masyarakat,” tutup Dahlan Iskan.(tok)
