Purple Day, Ubah Stigma Negatif Pasien Epilepsi

oleh

 

SURABAYA, kilasjatim.com: Stigma di masyarakat terhadap epilepsi atau ayan, berdampak pada dikucilkannya si penderita hingga menyendiri dan menyepi dari hingar bingar masyarakat sekelilingnya. Mengapa? Karena penderita epilepsi merupakan suatu kejadian, yakni kejang mendadak sehingga masyarakat enggan untuk melibatkan penderita dalam aktifitas yang ada.Stigma tersebut salah besar.

Dikatakan dr. Heri Subianto, Sp.BS dokter Spesialis Bedah Saraf dari SNeI National Hospital, selama ini, penderita epilepsi tertutup. Selama ini, pasien maupun keluarganya merasa malu karena menderita penyakit ini.

“Keluarga menganggap epilepsi sebagai gangguan mental. Padahal, lebih dikarenakan adanya konslet di otak. Jika bagian yang konslet tersebut disembuhkan, tentu penyakit tersebut bisa disembuhkan atau setidaknya mengurangi intensitas kejangnya. Ini bergantung pada jenis epilepsi yang diderita,” tuturnya pada acara
Purple Day memperingati Hari
Epilepsi Sedunia, Minggu (8/04/2018) di Surabaya.

Purple Day jatuh pada 26 Maret lalu, juga untuk mengubah stigma negatif. Pada agenda yang digelar di Car Free Day (CFD) Taman Bungkul Surabaya, dimaksudkan untuk menggalang solidaritas dan membangun dukungan pada penderita epilepsi untuk mau speakout (berbicara di muka umum). Membantu dalam dukungan terapi, baik obat-obatan, maupun operasi.

Pada kesempatan yang sama, dr. Neimy Novitasari, Sp.S dokter Spesialis Saraf di Comprehensive Epilepsi Center National Hospital menambahkan, pihaknya berusaha menangani pasien secara komperehensif. Yaitu dari mulai awal kejang kita lakukan penelusuran riwayat kejang , faktor pencetus, pemeriksaan saraf secara intensif.

“Untuk mengevaluasi kejang kita memerlukan alat yang disebut ictal video EEG,” imbuhnya.

Sekilas Heri menjelaskan sejarah Purple Day dimulai tahun 2008 oleh seorang anak berusia 9 tahun. Adalah Cassidy Megan dari Nova Scotia, Canada, dengan bantuan Asosiasi Epilepsi Nova Scotia (EANS), Cassidy memilih warna ungu bunga Lavender sebagai warna internasional untuk epilepsi. Bunga Lavender diasosiasikan sebagai lambang kesendirian dan kesepian perasaan para pasien epilepsi. Tujuan Cassidy untuk orang-orang yang menyandang epilepsi dimana pun berada mengetahui bahwa mereka tidak sendiri.

Bahkan, lanjut dia ada pasien epilepsi yang bisa sampai gagal menikah. “Keluarga pasien malu karena anggota keluarganya ada yang menderita epilepsi. Keluarga saja malu, apalagi pasien. Ini yang harus kita ubah. Mereka tidak sendiri. Kita ada untuk bersama-sama memberi dukungan,” tegas Heri.

Berkaitan dengan kesembuhan pasien epilepsi, Heri mengatakan tiap kesembuhan pasien berbeda. Tergantung pada jenis epilepsi yang diderita. Jenis General Epilepsi memiliki tingkat kesembuhan tidak besar. Tapi dengan terapi, bisa mengurangi frekuensi kejang. Fokal Epilepsi memiliki tingkat harapan sembuh 60-80 persen lebih baik daripada jenis pertama. Selanjutnya Temporal Epilepsi, melalui terapi obat dan operasi, pasien memiliki tingkat kesembuhan 70-80 persen bisa bebas dari kejang. (kj4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *