Konsep Kerjasama Gofood dan Grabfood Berdampak Matikan Industri F&B

oleh

Ketua Apkrindo Jatim, Tjahjono Haryono

SURABAYA, kilasjatim.com:-
Ternyata tidak semua pelaku bisnis kuliner merasa diuntungkan dengan konsep yang diterapkan operator Gofood dan grabfood yang mengambil 20 persen dari harga normal yang diberikan pemilik kedai atau warung.

Konsep tersebut secara tegas dikatakan Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia Jawa Timur (Apkrindo Jatim), Tjahjono Haryono, berdampak mematikan industri food and beverage (F&B).

“Terus terang saya tidak suka dan tidak mendukung konsep tersebut, karena delivery disrupting ini membuat bisnis kuliner atau industri kuliner mati,” tegasnya disela peresmian TGC Coffee Basra di Surabaya Selasa (1/10/2019).

Alasan yang dikemukakan Tjahyo sistem yang diterapkan Gofood dan grabglfood mencharge kafe arau restoran 15 sampai dengan 20 persen sama artinya pemilik usaha sudah ada additional cost dan akhirnya itu akan menjadi sesuatu yang ambigu yang pada akhirnya membuat pengusaha menaikkan harga dan itu sudah tidak riil.

“Harga sebenarnya jika beli langsung tidak sama dengan harga saat kita beli melalui dua operator tersebut. Pembeli selain membayar ongkos juga membayar lebih untuk makanan yang dibelinya dengan selisih harga hingga 20 persen.

Terkait penolakannya tersebut Tjahyo sudah bertemu dengan orang nomor tiga gojek dan grabfood. Dan sebagai ketua DPD Apkrindo Jatim menyatakan tetap tidak suka dengan konsep kerjasama itu.

Namun Tjahyo tidak melarang atau pun mengeluarkan peraturan larangan kepada pengusaha kuliner maupun anggotanya yang bergabung dengan operator tersebut.

“Saya tidak melarang pengusaha resto mupun kafe ataupun anggota kita untuk tidak bekerjasama dengan gojek maupun grabfood. Saya hanya tidak suka dengan konsep kerjasamanya,” tegas Tjahyo. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *