Bulog dan Pemprov Stabilisasi Harga Pangan, Jamin Stok Aman

oleh

 

Program Gerakan Stabilisasi Harga Pangan (GSHP) dilakukan dengan mendistribusikan kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng dan terigu ke 20 pasar tradisional, 179 outlet Rumah Pangan Kita (RPK) dan 5 kantor BUMN pada Selasa (15/05) diberangkatkan dari Gudang Bulog Banjar Kemantren

 

 

SIDOARJO, kilasjatim.com:
Badan Urusan Logistik (Bulog) Jawa Timur, menjamin stok pangan menjelang ramadan aman lantaran Bulog dan Pemprov Jatim melakukan stabilisasi harga kebutuhan pokok untuk mengantisipasi kenaikan harga yang biasa terjadi menjelang ramadan.

Program Gerakan Stabilisasi Harga Pangan (GSHP) dilakukan dengan mendistribusikan kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng dan terigu ke 20 pasar tradisional, 179 outlet Rumah Pangan Kita (RPK) dan 5 kantor BUMN.

Kadivre Bulog Jatim, Mohammad Hasyim mengatakan saat ini stok beras di kita ada 227 ribu ton.Jika kondisi seperti biasanya, maka stok ini cukup aman hingga 10 bulan ke depan.

Untuk tepung terigu stok di Bulog mencapai 104 ribu kilogram. Minyak goreng sebanyak 750 ribu liter dan gula mencapai 25 ribu ton.

“Tidak perlu khawatir untuk stok. Yang terpenting saat ini harga bisa stabil,” kata Hasyim usai pelepasan armada GSHP di Gudang Bulog Banjar Kemantren Sidoarjo, Selasa (15/05/2018).

Distribusi kebutuhan oangan tersebut ke enam pasar di kota Surabaya  yakni Pasar Tambakrejo, Keputran, Genteng, Pucang Anom dan Pasar Larangan dan Sukodono.

Dalam mengantisipasi kenaikan harga Bulog sudah menjalin kerjasama dengan banyak pedagang di beberapa pasar. Tujuannya memperbesar daya jangkau produk Bulog yang harganya lebih murah dibandingkan harga di pasaran.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur, Dery Rossianto mengatakan Bank Indonesia turut berperan untuk menyetabilkan harga ini.

Karena BI selaku wakil dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjaga agar tidak mengalami inflasi saat Ramadan dan lebaran.

“Kenaikan harga akan terjadi pada dua minggu pertama mendekati puasa, komoditas ini harga naik karena permintaan yang meningkat. Tapi stok kita aman,” kata Dery.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mengalokasikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 7 miliar pada tahun ini. Anggaran itu untuk biaya subsidi ongkos angkut.

Asisten 2 Bidang Perekonomian, Fattah Yasin mengatakan, subsidi Rp 7 miliar itu, sebesar Rp 5 miliar diperuntukkan untuk subsisi ongkos angkut saat Ramadan dan lebaran.

“Tahun-tahun sebelumnya biasanya yang terserap sekitar 90 persennya. Nanti untuk masalah ini kita koordinasikan dengan Bulog karena masalah distribusi Bulog yang menangani pelaksanaa di lapangan,” papar Fattah. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *