KILASJATIM.COM, SURABAYA – elang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, fenomena yang tak lazim justru muncul di ruang publik: bendera bajak laut Jolly Roger dari serial anime One Piece tampak berkibar sejajar, bahkan lebih menonjol, dari Sang Saka Merah Putih. Mulai dari jalanan hingga lini masa media sosial, pemandangan ini menimbulkan pertanyaan besar soal arah nasionalisme generasi muda.
Menanggapi hal tersebut, Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, Dosen Sistem dan Teknologi Informasi (Sistekin) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, menyatakan keprihatinannya terhadap fenomena ini. Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar tren budaya pop, melainkan cermin dari pergeseran cara masyarakat memaknai simbol perjuangan bangsa. “Nasionalisme kita hari ini sedang digerus oleh algoritma dan euforia digital. Ketika bendera fiksi lebih viral dari Merah Putih, itu bukan lagi soal ekspresi, melainkan disorientasi,” terang Supangat.
Lebih lanjut Supangat menjelaskan bahwa media sosial dan sistem algoritma kini memegang peranan besar dalam membentuk opini publik. “Yang viral bukan yang bernilai, melainkan yang lucu dan cepat dibagikan. Merah Putih jadi kalah pamor karena tak masuk pola konsumsi digital kekinian,” tegasnya.
Sistem content-based filtering yang umum digunakan platform digital juga dikritik karena hanya memperkuat preferensi pengguna, tanpa memberikan ruang untuk konten edukatif dan nilai kebangsaan. “Kita menghadapi nasionalisme digital yang disorientatif, di mana identitas bangsa bisa kehilangan jangkar karena masyarakat hanya mengonsumsi apa yang mereka suka, bukan apa yang seharusnya mereka tahu.” lanjutnya.
Supangat mendorong agar simbol-simbol kebangsaan seperti Merah Putih tidak hanya hidup di dunia fisik, tetapi juga mewarnai dunia digital. Ia mengusulkan adanya sinergi antara pemerintah, pendidik, kreator konten, dan pengembang teknologi untuk menciptakan kampanye digital yang inspiratif dan bermakna. “Gunakan augmented reality, filter media sosial, komik daring, hingga game untuk menanamkan semangat nasionalisme. Merah Putih harus jadi bagian dari dunia digital, bukan jadi tamu.” ujar Supangat lagi.
Selain itu, ia mengusulkan pengembangan dashboard digital nasional untuk memantau konten kebangsaan, serta mendeteksi tren yang berpotensi melemahkan identitas bangsa. Dashboard ini akan menjadi dasar kebijakan berbasis data yang strategis dan ideologis. Supangat menegaskan, nasionalisme bukan berarti harus kaku. Ia boleh kreatif dan mengikuti zaman, tapi tidak boleh kehilangan makna. “Mengidolakan Luffy boleh, tapi jangan lupa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh manusia nyata, dengan darah dan air mata, bukan karakter fiksi,” kata Supangat.
Ia menutup dengan ajakan untuk membentuk sistem digital yang tidak hanya efisien, tetapi juga berpihak pada karakter Indonesia. “Literasi saja tidak cukup. Kita perlu arsitektur digital yang menjunjung nilai bangsa. Jangan biarkan perjuangan hanya menjadi sekadar konten trending,” tutup Supangat.(tok)
