Buku-Buku di Arena Partai

oleh -709 Dilihat
Penulis, Eri Irawan, bersama buku-buku yang dibagikan di HUT ke-53 dan Rakernas PDI Perjuangan

Oleh Eri Irawan,
Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya

Jorge Luis Borges, sastrawan Amerika Latin yang masyhur itu, pernah mengatakan, buku adalah sarana manusia yang paling mengesankan. “The book is an extension of memory and imagination,” katanya.

Buku memperluas ingatan dan imajinasi. Dan kita tahu sejarah manusia dibentuk oleh ingatan dan imajinasi.

Pesawat. Alat ultrasonografi. Pelat karbon pada sepatu lari. Kamera. Media sosial. Alat tempur. Bubuk mesiu. Bom atom. Televisi. Bahkan buku, yang dicetak pertama kali oleh Johannes Gutenberg, adalah buah dari imajinasi tentang sesuatu yang paripurna dalam hidup manusia.

Adapun ingatan membentuk identitas kita hari ini. Bukan hanya sebuah individu. Tapi juga sebuah bangsa. Sejarah mungkin bisa ditulis oleh pemenang. Tapi setiap orang punya ingatan yang tak bisa dilenyapkan oleh kekuasaan.

Dan dari arena pertemuan dan permufakatan di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, petuah Borges seperti menemukan bentuknya. PDI Perjuangan menjaga dan menumbuhkan tradisi membagikan buku-buku sebagai ”suvenir” kepada para pengurus partai di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga anggota DPRD dari seluruh Indonesia. Buku yang dibagikan pun beragam tema, mulai ideologi, sejarah pangan, pergerakan perempuan, gerak anak muda, hingga lingkungan.

Ini adalah bentuk kepemimpinan intelektual yang dibangun Ketua Umum Megawati Soekarnoputri di PDI Perjuangan. Kepemimpinan yang digerakkan oleh intelektualitas, akal budi, dan nalar mandiri di atas otot kawat tulang besi. Kepemimpinan yang menjauhkan PDI Perjuangan dari semata-mata menjadi partai yang hanya berorientasi politik kekuasaan, tapi mendekatkan partai ini ke ide dan gerakan untuk menjawab problem dasar bangsa, misalnya tecermin pada konsistensi Mega dan PDI Perjuangan dalam isu-isu lingkungan—hingga diapresiasi Harian Kompas (12/1/2026) yang menyebut PDI Perjuangan menampilkan ”high politics”.

Melalui kepemimpinan intelektual ini, Megawati menggerakkan partai dengan ide dan imajinasi. ”The power of idea, the power imagination”. Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Minggu malam (11/1/2026), membedah hal itu di hadapan lebih dari 3.000 anggota DPRD dari PDI Perjuangan selama hampir dua jam, dengan memberi contoh-contoh konkrit bagaimana ide dan imajinasi tentang kebaikan-kebaikan untuk rakyat dapat kita wujudkan meski kita tahu PDI Perjuangan bukan partai yang digerakkan oleh uang dan konglomerat.

Baca Juga :  Gotong Royong Warnai Peringatan HUT ke-80 RI di Surabaya

Rumah Sakit Terapung Kapal Laksamana Malahayati, puluhan mobil bioskop keliling untuk edukasi rakyat, mobil laundry untuk bencana, hingga aksi tanggap terhadap penanganan bencana; adalah sekian contoh yang menempatkan PDI Perjuangan sebagai partai terdepan dalam membantu rakyat, yang semuanya berawal dari ide dan imajinasi lalu digerakkan dengan gotong royong.

Tradisi Membagi Buku di Acara PDI Perjuangan

Kembali ke soal tradisi membagikan ”suvenir” buku. Salah satu yang teramat saya nanti saat mengikuti acara DPP PDI Perjuangan memang soal ”suvenir” buku. Sudah lebih dari 70 buku saya dapatkan dari beragam kegiatan partai ini sejak 2018.

Tradisi pembagian buku itu pula yang mewarnai peringatan ulang tahun ke-53 PDI Perjuangan dan Rapat Kerja Nasional partai tersebut yang digelar di Jakarta, 10-12 Januari 2026. Delapan buku dibagikan. Empat buku dikemas sebagai ”buku tanya jawab” ihwal beragam topik dengan satu muara, yaitu pemikiran dan pergerakan Bung Karno: tentang Sarinah, tentang lahirnya Pancasila, tentang risalah ”Mencapai Indonesia Merdeka”, dan tentang ”Indonesia Menggugat”.

Ada pula buku yang diterbitkan Badan Sejarah Indonesia DPP PDI Perjuangan, ”Bung Karno dan Pembebasan Asia-Afrika”, serta ”Tanya Jawab tentang Pencabutan TAP MPRS XXXIII/MPRS/1967/ dan Pemulihan Nama Baik Bung Karno” yang diterbitkan Fraksi PDI Perjuangan MPR RI.

Dua buku lainnya terasa sangat spesial dan relevan dengan situasi peradaban umat manusia akhir-akhir ini yang dihantui krisis ekologis—Megawati Soekarnoputri membahas detil soal krisis ekologis itu di pembukaan serta penutupan Rakernas, sembari mengingatkan para kader untuk berjuang habis-habisan dalam merawat lingkungan. Dua buku itu adalah ”Merawat Pertiwi: Jalan Megawati Soekarnoputri Melestarikan Alam” dan ”Spirit Kemanusiaan: Manajemen Risiko Bencana ala Megawati Soekarnoputri” yang diterbitkan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan. Judul terakhir adalah buku yang diluncurkan bertepatan dengan rangkaian ulang tahun PDI Perjuangan ke-53.

Baca Juga :  Pemilu 2024 Sebentar Lagi, Yuk Intip Cara Cek TPS dengan Mudah

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut buku tersebut menggambarkan manajemen mitigasi bencana dan kepedulian tinggi Megawati terhadap pelestarian lingkungan. Kita tahu seberapa serius PDI Perjuangan bertransformasi menjadi partai yang begitu konsisten dalam menyuarakan serta bertindak nyata merespons isu-isu lingkungan.

Penerbitan buku yang kemudian dibagikan kepada seluruh pengurus PDI Perjuangan di semua tingkatan itu menjadi upaya pengingat, bahwa sejumlah persoalan yang terjadi di negeri ini diakibatkan pendeknya memori kita. Kita seringkali melupakan banyak hal yang terjadi pada masa lampau yang seharusnya bisa memberikan pelajaran dan hikmah.

Namun, lemahnya kebiasaan kita untuk menulis dan membaca sejarah dan torehan ingatan itu seringkali melumpuhkan kemampuan kita untuk beradaptasi dengan zaman. Bung Karno menyerukan “Jasmerah”. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Namun agaknya hari ini bangsa kita lebih suka berhenti pada seruan tanpa tindakan.

Akhirnya kita senantiasa terpuruk dan terperosok di lubang sejarah yang sama. Seolah-olah itu lubang hitam yang mengisap seluruh daya upaya kita untuk bangkit memperbaiki diri. ”Mengingkari sejarah membuat sebuah bangsa sering jatuh pada kesalahan demi kesalahan. Seperti yang dilakukan Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto yang melakukan De-Soekarnoisasi,” demikian cuitan akun resmi DPP PDI Perjuangan di X (Twitter).

Sejarah umat manusia bagaikan perlombaan antara edukasi dan katastrofi, kata H.G. Wells. Pendidikan dan bencana. Kepandaian dan kebodohan. Kita sudah sering kalah dalam perlombaan itu, dan membuat bangsa ini terjerumus dalam bencana dan kegagalan merancang arsitektur masa depan dengan pijakan sejarah yang benar.

PDI Perjuangan berkomitmen untuk tidak membiarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang dikutuk sejarah, seperti apa yang dikatakan filsuf George Santayana. “Those who do not remember the past are condemned to repeat it”. Siapa yang tidak mengenang masa lampau akan dikutuk untuk mengulanginya.

Dan semuanya diawali dari buku-buku di tengah arena musyawarah dan permufakatan partai. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.