KILASJATIM.COM, Surabaya – Terdapat tradisi unik dan sakral saat malam 1 Suro dalam masyarakat Jawa, khusunya di Jawa Timur.
Di malam 1 Suro bertepatan dengan 1 Muharram dalam Tahun Baru Islam, biasanya masyarakat Indonesia khususnya Jawa, banyak melakukan kegiatan saat hari tersebut.
Mulai dari kenduri, pengajian, selamatan desa, hingga grebeg suro. Hal tersebut dilakukan saat bulan suro ataupun tepat di tanggal 1 suro.
Menurut laman Kemendikbud RI, malam 1 suro merupakan bulan pertama Tahun Baru Jawa di bulan suro, dan penanggalannya mengacu pada kalender Jawa.
Berikut berbagai tradisi unik menyambut malam 1 suro di Jawa Timur dilansir dari berbagai sumber.
1. Upacara Petik Laut di Jember
Upacara petik laut yang diselenggarakan masyarakat nelayan dan dilestarikan karena dianggap dapat memberikan keselamatan kepada nelayan saat mencari ikan.
Sebelum pergi ke laut, nelayan mengadakan selamatan dengan memberikan sesaji kepala sapi dan kambing kepada penjaga laut selatan agar dapat memberikan perlindungan saat di tengah laut.
Selain itu, upacara petik laut dilaksanakan agar mendapatkan ikan yang banyak untuk menghidupi keluarganya.
Upacara petik laut di Jember ini dikemas sebagai aset pariwisata sejak tahun 2003, dan diselenggarakan setiap tanggal 10 suro.
2. Grebeg Suro di Ponorogo
Ponorogo terkenal dengan grebeg suro yang menjadi tradisi masyarakat disana saat malam 1 Suro.
Ada banyak kegiatan dalam acara grebeg suro, seperti pertunjukkan Reog, pameran pusaka, pencucian benda pusaka, bedhol pusaka hingga ziarah makam.
3. Tradisi Adat Sapi-sapian di Banyuwangi
Masyarakat Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Banyuwangi menggelar tradisi adat sapi-sapian saat malam 1 Suro atau 1 Muharram.
Adat sapi-sapian adalah ritual ider bumi (mengelilingi desa) dengan berdandan ala sapi, sambil membawa kendi jajang (tempat air minum dari bambu) kemudian diarak beramai-ramai oleh warga.
Arak-arakan diawali dari batas desa hingga ujung desa sejauh 4 km, sebagai wujud ungkapan syukur Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan yang diterima warga Kenjo.
4. Larung Pendam di Gunung Semeru Lumajang
Kegiatan larung pendam yang dilakukan warga lereng Gunung Semeru merupakan tradisi yang harus dilakukan setiap setahun sekali pada tanggal 1 Suro atau 1 Muharram.
Tradisi tersebut dilakukan agar warga jauh dari ancaman bahaya seperti gunung meletus dan bencana lainnya.
Selain itu, larung pendam sebagai salah satu bentuk syukur atas apa yang telah didapatkan warga lereng Gunung Semeru selama ini.
Perayaan malam 1 Suro merupakan upaya untuk mencari keselamatan dan ketentraman batin.
Oleh karena itu dalam perayaan tersebut, masyarakat selalu membaca doa bersama untuk mendapatkan berkah dan melindungi diri dari bahaya. (bbs/bkj)




