KILASJATIM.COM Surabaya – Perekonomian Jawa Timur mencatat pertumbuhan sebesar 5,83 persen secara kumulatif sepanjang Januari–September 2026. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi di antara provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur yang dirilis Kamis (5/11/2026), pertumbuhan ekonomi Jawa Timur berada di atas Jawa Tengah sebesar 5,82 persen, Jawa Barat 5,81 persen, DI Yogyakarta 5,80 persen, DKI Jakarta 5,66 persen, dan Banten 5,62 persen.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama pemerintah, dunia usaha, pekerja, petani, nelayan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat.
“Alhamdulillah, secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,83 persen, melampaui nasional dan menjadi yang tertinggi se-Pulau Jawa,” ujar Khofifah di Surabaya dalam keterangan resminya, Sabtu, 7/11/2026.
Menurut Khofifah, pemerintah daerah tidak hanya berupaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat melalui peningkatan kesempatan kerja, perkembangan usaha, dan daya beli keluarga.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi Jawa Timur dengan kontribusi 31,26 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berikutnya, sektor perdagangan menyumbang 18,37 persen dan pertanian, kehutanan, serta perikanan sebesar 11,12 persen.
Ketiga sektor tersebut juga mencatat pertumbuhan positif. Industri pengolahan tumbuh 5,95 persen, perdagangan 6,23 persen, dan pertanian, kehutanan, serta perikanan sebesar 4,01 persen. Adapun sektor konstruksi mencatat pertumbuhan 8,18 persen.
Sementara itu, pertumbuhan tertinggi berdasarkan lapangan usaha terjadi pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencapai 11,29 persen. BPS mencatat peningkatan aktivitas masyarakat melalui berbagai kegiatan serta realisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mendukung kinerja sektor tersebut.
Khofifah menekankan pentingnya memperkuat keterkaitan antarsektor agar pertumbuhan industri dan perdagangan turut menggerakkan ekonomi masyarakat hingga pedesaan.
“Industri yang berkembang perlu semakin banyak melibatkan pemasok lokal. Produk petani, nelayan, dan UMKM harus memperoleh akses pasar yang lebih luas,” katanya.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur ekonomi Jawa Timur dengan kontribusi 60,60 persen dan pertumbuhan 5,72 persen. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi fisik tumbuh 8,37 persen.
Khofifah mengatakan, pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat melalui ketersediaan bahan pokok, kelancaran distribusi, dan pengendalian harga. Pemerintah juga mendorong investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi dan membuka lapangan kerja.
Secara tahunan, ekonomi Jawa Timur pada triwulan III 2026 tumbuh 5,82 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 5,47 persen. Adapun secara triwulanan, ekonomi daerah tersebut tumbuh 1,80 persen dibandingkan triwulan II 2026.
Pertumbuhan ekonomi juga diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. BPS mencatat jumlah penduduk bekerja di Jawa Timur mencapai 24,36 juta orang pada Agustus 2026, bertambah 559.620 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode tersebut, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur tercatat sebesar 3,60 persen. (Fri)
