KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Surut ekstrem air laut di Selat Bali mengganggu aktivitas penyeberangan Jawa-Bali. Kapal kesulitan bersandar di Dermaga LCM Gilimanuk, Bali, sehingga jumlah perjalanan atau trip kapal turun hingga separuh dari kondisi normal.
Dampaknya, antrean kendaraan, terutama truk logistik, sempat mengular hingga sekitar dua kilometer di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Kepala Cabang PT Raputra Jaya, Dian Widodo, mengatakan kondisi pasang-surut ekstrem sebenarnya sudah terjadi selama sepekan terakhir. Namun, kondisi paling parah berlangsung dalam tiga hari terakhir.
“Paling ekstrem tiga hari terakhir,” kata Dian dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (30/10/2026).
Dian menjelaskan, saat air laut surut, kapal tidak bisa langsung merapat ke dermaga. Operator harus menunggu air kembali pasang agar proses sandar dan bongkar-muat kendaraan bisa dilakukan.
Pada Kamis, kondisi surut ekstrem berlangsung sekitar pukul 02.30 WIB hingga 08.00 WIB. Situasi itu membuat jadwal penyeberangan di lintasan LCM Gilimanuk-Ketapang tidak berjalan normal.
Dian mencontohkan, pada periode tengah malam hingga pukul 04.00 WIB sehari sebelumnya, kapal perusahaannya hanya mampu melayani empat trip. Padahal, dalam kondisi normal, jumlah perjalanan bisa mencapai delapan trip.
“Kemarin dari tengah malam hingga pukul 4 pagi, kapal kami hanya tercapai empat trip. Kalau kondisi normal harusnya bisa delapan trip,” ujarnya.
Berkurangnya perjalanan kapal juga berdampak pada operasional perusahaan. Waktu tunggu untuk bersandar membuat konsumsi bahan bakar bertambah. Perusahaan pun kehilangan potensi pendapatan karena jumlah trip tidak mencapai target normal.
Selain menghambat proses sandar dan bongkar-muat, Dian menyebut kondisi tersebut turut memengaruhi arus laut di Selat Bali. Arus di bagian tengah selat disebut relatif tidak stabil saat air laut surut.
BMKG: Dipicu Fenomena Perigee
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Yudhi Nugraha Septiadi, menjelaskan pasang-surut air laut dipengaruhi gaya gravitasi bulan dan matahari serta gaya sentrifugal akibat rotasi bumi.
Saat ini, Selat Bali juga dipengaruhi fenomena perigee, yakni posisi bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan ketinggian pasang maupun surut air laut.
“Fenomena perigee dapat meningkatkan ketinggian pasang maupun surut air laut,” kata Yudhi.
Berdasarkan pemantauan BMKG selama tiga hari terakhir, pasang tertinggi di Selat Bali mencapai 1,6 meter dari rata-rata muka air laut atau mean sea level (MSL). Sementara surut terendah tercatat hingga minus 1,6 meter dari MSL.
Yudhi mengatakan surut terendah dalam pemantauan terakhir terjadi sekitar pukul 04.00 hingga 07.00. Namun, waktu tersebut bisa berubah sehingga masyarakat dan operator penyeberangan diminta tidak menjadikannya sebagai patokan tetap.
BMKG memperkirakan pengaruh fenomena perigee masih berlangsung hingga tiga hari ke depan. Setelah itu, dampaknya diprediksi berangsur-angsur menurun.
Meski demikian, Yudhi mengingatkan masyarakat dan pihak terkait tetap mewaspadai kemungkinan pasang-surut air laut yang kuat selama periode tersebut. (cit)
