NGOPI di Bondowoso, Ina Ammania Dorong Pendidikan Madrasah Lebih dari Sekadar Nilai

oleh -332 Dilihat
Oleh
Ihwanul Hasan

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Pendidikan madrasah tidak cukup hanya mengejar nilai akademik dan prestasi. Lebih dari itu, madrasah harus mampu melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian sosial.

Pesan tersebut disampaikan Ina Ammania, anggota Komisi VIII Fraksi PDI Perjuangan, dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) bertema “Membangun Generasi Emas Madrasah: Integrasi Prestasi Akademik, Akhlak Mulia dan Kecakapan Sosial” di Grand Padis, Bondowoso, Rabu (28/10/2026).

Ina menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari nilai rapor, jumlah piala, maupun capaian akademik siswa. Pendidikan juga harus membentuk karakter agar anak mampu menerapkan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, siswa yang berprestasi perlu dibekali kejujuran, kedisiplinan, sikap santun, serta kemampuan menghargai orang lain. Dengan demikian, kecerdasan yang dimiliki tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Kita tidak ingin melahirkan anak yang pintar tetapi sombong, berprestasi tetapi tidak jujur, atau menguasai teknologi tetapi menggunakannya untuk menyakiti orang lain,” menjadi salah satu pesan penting dalam materi yang disampaikannya.

Ia menjelaskan, ada tiga aspek utama yang perlu dikembangkan secara bersamaan dalam pendidikan madrasah, yakni prestasi akademik, akhlak mulia, dan kecakapan sosial.

Prestasi akademik membangun pengetahuan dan kemampuan berpikir siswa. Akhlak menjadi pedoman dalam menggunakan ilmu, sedangkan kecakapan sosial membantu mereka bekerja sama, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan bersama.

Guru Berperan Penting di Era Kecerdasan Buatan

Dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Ina menilai siswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, memecahkan masalah, serta mengembangkan gagasan secara mandiri.

Menurutnya, guru tidak lagi cukup hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru harus mampu membimbing siswa untuk bertanya, mencoba, berpikir, dan menemukan solusi atas berbagai persoalan.

Baca Juga :  Kusuma/Puspitasari Melaju ke Perempat Final Malaysia Open 2026

Pembelajaran pun dapat dikaitkan dengan kondisi nyata di lingkungan madrasah. Misalnya, siswa diajak mengamati persoalan sampah, menghitung jumlahnya, mempelajari dampaknya, hingga merumuskan langkah penyelesaian.

Cara tersebut dapat mengembangkan kemampuan akademik sekaligus menumbuhkan tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan.

Ina juga mengingatkan agar siswa yang mendapatkan nilai rendah tidak langsung dicap malas atau tidak mampu. Guru perlu memahami kesulitan yang mereka hadapi dan memberikan pendampingan agar setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang.

Akhlak dan Kepedulian Harus Menjadi Kebiasaan

Selain prestasi akademik, pembentukan akhlak menjadi perhatian penting dalam materi yang disampaikan Ina. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak cukup melalui nasihat, tetapi harus diwujudkan lewat keteladanan dan kebiasaan sehari-hari.

Sikap jujur ketika ujian, disiplin menjalankan tugas, menjaga fasilitas madrasah, berbicara santun, dan menghormati teman merupakan contoh sederhana yang perlu terus ditanamkan.

Ia juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan madrasah yang aman dan bebas dari perundungan. Tidak boleh ada siswa yang merasa takut datang ke sekolah karena diejek, dikucilkan, atau dipermalukan.

Karena itu, guru perlu membangun suasana belajar yang mendorong rasa aman, saling menghormati, dan kepedulian antarsiswa.

Ina menegaskan, keteladanan guru menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Nilai-nilai kebaikan akan lebih mudah dipahami siswa apabila mereka menyaksikan langsung penerapannya dalam perilaku orang dewasa di sekitarnya.

Kolaborasi Madrasah dan Orang Tua

Untuk membangun generasi emas, Ina mendorong madrasah memperkuat keteladanan guru, mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran, memberikan ruang bagi siswa untuk berlatih bekerja sama, serta memperhatikan perkembangan anak secara menyeluruh.

Penilaian pendidikan, menurutnya, tidak seharusnya hanya berfokus pada angka akademik. Kejujuran, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan perkembangan perilaku juga perlu menjadi perhatian.

Baca Juga :  Rektor Cup 2026 Untag Surabaya Cetak Generasi Berkarakter

Upaya tersebut harus didukung oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Nilai-nilai yang ditanamkan di madrasah perlu diperkuat melalui komunikasi dan keteladanan orang tua di rumah.

Ina berharap, pendidikan madrasah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan kemampuan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Generasi emas tidak dibangun dalam satu hari. Mereka tumbuh melalui kebiasaan baik, keteladanan, bimbingan, dan kesempatan belajar yang terus diberikan,” demikian pesan yang ditekankan Ina.

Melalui integrasi prestasi akademik, akhlak mulia, dan kecakapan sosial, madrasah diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang cerdas pikirannya, luhur akhlaknya, serta kuat kepeduliannya terhadap sesama.(wan)