KILASJATIM.COM, Surabaya – Dosen Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) dan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya mendampingi Rumah Batik Inklusi (RUBI) dan kelompok PKK Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, Situbondo, melalui program Kosabangsa 2026. Program ini menyasar peningkatan produksi batik inklusif, pemasaran digital, pengolahan pangan berbasis daun kelor, serta kesiapsiagaan bencana.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut memperkenalkan mesin pelorot malam untuk meningkatkan efisiensi produksi batik dan mesin jahit digital bagi pengembangan produk fesyen. RUBI yang memiliki 30 anggota, sebagian besar penyandang disabilitas, ditargetkan meningkatkan produksi dari 125 menjadi 400 lembar per bulan serta mengembangkan 10 motif baru.
Ketua tim pelaksana Kosabangsa dari UNIBA, Dr. Ikhwanul Qiram, S.T., M.T., mengatakan pendampingan tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga penguatan usaha dan pemasaran. “Teknologi, peningkatan keterampilan, dan pemasaran perlu berjalan bersama agar hasil pendampingan dapat memperkuat daya saing produk serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” terang Ikhwanul.
Sementara itu, kelompok PKK yang beranggotakan 23 orang mendapat pelatihan pengoperasian mesin jahit digital, pembukuan usaha, dan pemasaran daring. Tim juga mendampingi pengolahan daun kelor menjadi empat produk pangan, yakni bakso, mi, teh, dan tepung, sekaligus memberikan edukasi gizi untuk mendukung pencegahan stunting.
Pendampingan turut mencakup penyusunan prosedur tanggap darurat, peta jalur evakuasi, pembentukan kelompok siaga, dan simulasi menghadapi bencana puting beliung.
Ketua kelompok PKK Desa Kedungdowo, Purwatiningsih, berharap program tersebut meningkatkan keterampilan dan keberlanjutan usaha warga. “Kami berharap pendampingan ini memberi keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan, membantu anggota mengembangkan produk dan pemasaran, serta membuat kegiatan ekonomi kelompok semakin berkelanjutan,” tuturnya.
Pemerintah Desa Kedungdowo turut mendukung program tersebut. Kepala Desa Kedungdowo, Moh. Hafit, S.M., menyatakan pemerintah desa berkontribusi dalam pendanaan sebesar Rp40 juta.
Program ini melibatkan dosen dan mahasiswa UNIBA serta tim pendamping Unitomo yang diketuai Prof. Dr. Dra. Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon, M.M. Pendampingan diharapkan berlanjut setelah program berakhir melalui pusat studi kewirausahaan kedua perguruan tinggi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.(tok)
