Mandala Wilis, Membuka Sisi Lain Indonesia

oleh -63 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Indonesia tidak kekurangan destinasi. Yang sering terlewat justru cerita di baliknya. Gagasan itulah yang terus dicari Rendi Saputra, atau Rendis, director yang banyak bekerja dengan pendekatan sinematografi.

Baginya, perjalanan bukan sekadar tiba di tempat yang sudah dikenal, mengambil gambar, lalu pulang. Ada lanskap, tradisi, kehidupan masyarakat, hingga destinasi tersembunyi yang baru terlihat ketika sebuah daerah dijelajahi lebih jauh. “Indonesia itu kaya. Ketika kita datang ke sebuah daerah, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilihat dan dirasakan. Alamnya sendiri sudah memiliki kekuatan visual yang besar, tinggal bagaimana kita menemukan cara untuk menceritakannya,” papar Rendis.

Cara pandang tersebut salah satunya terbentuk melalui Exploride, program sport tourism Polygon Bikes. Program itu telah mengeksplorasi Tulungagung, Banyuwangi, Lumajang, Madura, Trenggalek, Kediri, Tuban, dan Blitar. Menggabungkan bersepeda dengan aktivitas olahraga lainnya melalui konsep duathlon, Exploride mengangkat tiga elemen utama: hidden gem, culture, dan extreme sport. Dari satu daerah ke daerah lain, Rendis menemukan pola yang sama: semakin dalam sebuah wilayah digali, semakin banyak cerita yang muncul.

Pengalaman itu kemudian berkembang menjadi Mandala Series. Konsepnya sederhana, tetapi cakupannya luas: menjadikan gunung bukan sekadar latar pemandangan, melainkan titik awal untuk menjelajahi kawasan di sekelilingnya.
Mandala Wilis menjadi seri pertama.

Enam wilayah yang mengitari Gunung Wilis, mulai dari Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, dan Nganjuk, diposisikan sebagai satu ruang eksplorasi yang menyimpan karakter alam, budaya, sejarah, serta kehidupan masyarakat yang berbeda. “Tujuan seseorang bepergian sering kali hanya sebatas pada apa yang mereka ketahui. Padahal, jika mereka menggali lebih dalam, sebuah daerah, terutama yang mengitari gunung, selalu menyimpan rentetan destinasi otentik yang masih tersembunyi,” kata Rendis.

Baca Juga :  Para Petani Tambak Desa Leran Resah atas Maraknya Pencurian Ikan dan Udang di Manyar Gresik

Karena itu, kamera dalam Mandala Series tidak hanya mengejar lanskap indah. Perjalanan menuju lokasi, cahaya pagi, aktivitas masyarakat, tradisi, hingga detail keseharian menjadi bagian dari cerita. Sinematografi dipakai untuk membuat penonton tidak sekadar melihat sebuah tempat, tetapi membayangkan pengalaman berada di dalamnya.

Di tahap awal, Mandala Series dimulai dari Pulau Jawa. Ke depan, pendekatan serupa dapat diperluas ke pulau-pulau lain di Indonesia. Sebab, bagi Rendis, semakin jauh Indonesia dijelajahi, semakin panjang pula daftar cerita yang belum ditemukan.(tok)