Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter Berpotensi Picu Rob di Surabaya

oleh -58 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
Dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS Muhammad Hafiizh Imaaduddiin ST MT menjelaskan bahwa Surabaya tidak bisa menghindari banjir namun bisa meminimalisir risiko. (foto: Humas ITS)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Potensi banjir rob kembali mengintai wilayah pesisir Surabaya seiring prediksi pasang air laut tinggi pada akhir September 2026. Pakar mitigasi bencana banjir ITS Dr Umboro Lasminto mengingatkan warga untuk mewaspadai pasang yang mencapai lebih dari 2,4 meter.

Menurut Umboro, angka tersebut menjadi salah satu indikator berdasarkan pengamatan kejadian sebelumnya. Jika puncak pasang melampaui 2,4 meter, potensi terjadinya banjir rob perlu diwaspadai.

“Dari hasil pengamatan sebelumnya, apabila puncak pasang di atas 2,4 meter maka perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan banjir rob,” kata Umboro dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

Dosen Departemen Teknik Sipil ITS itu meminta masyarakat memantau informasi pasang air laut dari BMKG Tanjung Perak maupun sumber resmi lainnya. Sebab, kondisi pasang di lapangan tidak selalu persis sama dengan prediksi.

“Ketika ada prediksi pasang tinggi di wilayah pesisir Surabaya, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.

Dosen dan peneliti mitigasi bencana banjir Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS Muhammad Hafiizh Imaaduddiin menjelaskan pasang air laut berkaitan dengan siklus bulan.

Potensi pasang tinggi pada September ini, kata dia, bertepatan dengan fase bulan purnama yang dapat memicu periode pasang lebih besar.

“September ini terjadi potensi pasang tertinggi karena waktunya bersamaan dengan bulan purnama, pasang tertinggi, kemudian potensi rob,” jelas Hafiizh.

Menurut Hafiizh, karakteristik Surabaya sebagai wilayah hilir pesisir membuat risiko rob perlu terus diantisipasi. Perkembangan kawasan perkotaan juga membuat area resapan air semakin terbatas.

“Sebagai daerah hilir pesisir, Surabaya tidak dapat menghindari potensi banjir rob sehingga perlu diantisipasi melalui pengelolaan drainase,” katanya.

Sejumlah kawasan terbangun, mulai perumahan, perkantoran hingga kawasan Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), turut mengurangi area resapan air. Pemkot Surabaya sendiri telah memiliki Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) untuk mendukung penanganan persoalan drainase perkotaan.

Baca Juga :  Liburan Pergantian Tahun Baru 2023 , Gubernur Khofifah Ajak Warga +62 Healing ke Jawa Timur

Menghadapi potensi pasang tinggi, warga di kawasan yang rawan genangan dapat melakukan langkah sederhana. Di antaranya mengamankan barang dari lokasi yang berpotensi tergenang dan menyiapkan rute alternatif untuk perjalanan.

Kesiapsiagaan tersebut tetap diperlukan meski banjir rob pada akhirnya tidak terjadi.

“Persiapan sejak awal dapat membantu meminimalkan risiko dan dampak apabila pasang berkembang menjadi banjir rob,” ujar Hafiizh.

Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pengelolaan drainase tersebut juga berkaitan dengan target SDGs poin ke-11, yakni mewujudkan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. (cit)