Dinkes Bondowoso Perkuat Pencegahan Penyakit, CKG Capai 38 Persen

oleh -322 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit melalui sejumlah program prioritas. Evaluasi program tersebut menjadi salah satu fokus dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Tahun 2026, Rabu (16/9/2026).

Rakor tersebut digelar untuk mengevaluasi capaian berbagai program kesehatan sekaligus menyusun strategi menghadapi tantangan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit di masyarakat.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso melalui Asisten I (Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat) Sekretariat Daerah Kabupaten Bondowoso, Solikin.

Dalam sambutannya, Solikin menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang sehat menjadi bagian penting dalam mewujudkan Bondowoso yang tangguh, unggul, berdaya saing global, dan berbudaya dalam bingkai keimanan serta ketakwaan.

Menurutnya, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit memiliki peran strategis dalam pembangunan kesehatan daerah. Bidang tersebut mengampu enam dari 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.

Enam layanan tersebut meliputi pelayanan bagi terduga tuberkulosis (TB), penderita HIV, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), diabetes melitus, hipertensi, serta kelompok usia produktif.

Selain itu, P2P juga memiliki tugas dalam mengoordinasikan program imunisasi, surveilans kesehatan, pengendalian penyakit tidak menular, serta berbagai penyakit menular lainnya.

Solikin mengapresiasi dedikasi seluruh kepala puskesmas dan pengelola program P2P yang selama ini terus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah program yang membutuhkan perhatian bersama, terutama terkait capaian penanganan TB, HIV, imunisasi, serta surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

“Kalau kita cermati, salah satu kendala yang masih dihadapi adalah adanya penolakan dari sebagian masyarakat terhadap beberapa program kesehatan. Karena itu, dibutuhkan kerja sama lintas program dan lintas sektor untuk menyelesaikannya,” ujar Solikin.

Baca Juga :  Xabi Alonso Optimistis Sambut Paruh Kedua Musim, Real Madrid Siap Hadapi Betis

CKG Bondowoso Capai 38 Persen

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, dr. Moch Jasin, mengatakan Rakor P2P 2026 menjadi momentum penting untuk mengevaluasi berbagai program prioritas, mulai dari pengendalian penyakit menular, penyakit tidak menular, hingga peningkatan cakupan imunisasi.

Salah satu capaian yang menjadi perhatian adalah Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Menurut dr. Moch Jasin, pelayanan dengan metode jemput bola atau dilakukan di luar fasilitas kesehatan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat.

“Upaya memberikan pelayanan di luar gedung memberikan hasil yang luar biasa. Sebelum kita bergerak, capaian Cek Kesehatan Gratis berada di angka 20 persen. Sekarang sudah mencapai 38 persen dari target total 46 persen. Tinggal sekitar 8 persen lagi dan kami optimistis hingga Desember target tersebut bisa tercapai,” kata dr. Moch Jasin.

Dari hasil pemeriksaan CKG, temuan kasus paling banyak didominasi hipertensi, diabetes melitus, dan kolesterol tinggi.

Menurutnya, temuan tersebut menjadi bagian penting dari upaya pencegahan karena penyakit dapat diketahui lebih awal sehingga intervensi medis bisa segera dilakukan.

“Temuan-temuan ini bisa segera kita intervensi melalui terapi lanjutan sehingga risiko menjadi penyakit yang lebih berat seperti stroke dan penyakit jantung dapat dicegah,” ujarnya.

Kasus DBD dan Leptospirosis Terkendali

Selain penyakit tidak menular, Dinkes Bondowoso juga mencatat perkembangan dalam pengendalian penyakit menular.

Kasus demam berdarah dengue (DBD) pada 2026 dinilai lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya. Perbaikan juga terlihat pada kasus leptospirosis yang sebelumnya sempat menjadi perhatian.

Hingga saat ini, jumlah kasus leptospirosis yang ditemukan tercatat sebanyak tujuh kasus.

“Edukasi kepada masyarakat dan berbagai langkah pengendalian yang dilakukan memberikan hasil yang cukup baik,” jelas dr. Moch Jasin.

Baca Juga :  Realisasi Anggaran Dinkes Bondowoso Tembus 40 Persen, BLUD Diproyeksikan Tambah Rp1,1 Miliar

Penurunan juga terjadi pada penemuan kasus HIV. Jika pada tahun sebelumnya jumlah kasus positif yang ditemukan mencapai lebih dari 150 kasus, hingga Agustus 2026 jumlah kasus yang tercatat sebanyak 69 kasus.

Meski sejumlah indikator menunjukkan perkembangan positif, Dinkes Bondowoso masih memiliki pekerjaan rumah dalam meningkatkan cakupan imunisasi.

Program imunisasi terus diperkuat karena menjadi salah satu upaya penting untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Dinkes Imbau Masyarakat Tak Khawatir Imunisasi

dr. Moch Jasin mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir memberikan imunisasi kepada anak-anak. Ia menegaskan bahwa imunisasi telah melalui proses penelitian dan menjadi salah satu metode pencegahan penyakit.

“Imunisasi telah melalui proses penelitian yang panjang. Kalau ada demam setelah imunisasi, itu merupakan reaksi yang umum terjadi dan tenaga kesehatan juga sudah menyiapkan langkah penanganannya,” terangnya.

Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak hanya bergantung pada pemerintah dan tenaga kesehatan. Dukungan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan capaian program.

Cakupan imunisasi yang tinggi diharapkan dapat membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity, sehingga perlindungan terhadap penyakit dapat dirasakan secara lebih luas.

Melalui Rakor Program P2P Tahun 2026, Dinkes Bondowoso berharap seluruh pihak semakin memperkuat komitmen dalam mencegah penyakit sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

“Pencegahan tetap lebih baik daripada pengobatan. Mungkin manfaatnya tidak langsung dirasakan, tetapi dalam jangka panjang akan sangat berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat Bondowoso,” pungkas dr. Moch Jasin.(wan)