KILASJATIM.COM, Surabaya – Abu vulkanik tak sekadar mengganggu jarak pandang dan kebersihan lingkungan. Partikel berukuran sangat kecil yang terhirup dapat menembus saluran pernapasan hingga alveoli dan berisiko memicu gangguan paru, termasuk silikosis jika paparan berlangsung dalam jangka panjang.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Petra sekaligus spesialis pulmonologi dan respirasi, dr. Venny Singgih, Sp.P., mengatakan material vulkanik mengandung partikel dan gas. Partikel yang perlu diwaspadai antara lain respirable dust berukuran PM10 dan PM2,5 yang dapat masuk hingga saluran napas bawah. “Secara akut, paparan konsentrasi tinggi akan langsung memicu reaksi pada mata seperti pedih dan berair, kulit gatal dan muncul ruam hingga gangguan saluran napas,” jelas dr. Venny.
Menurutnya, debu yang masuk ke saluran pernapasan dapat menyebabkan iritasi, penyempitan dan pembengkakan saluran napas, serta produksi lendir berlebih. Kondisi tersebut dapat memicu batuk, sesak napas hingga penurunan saturasi oksigen.
Risiko yang lebih serius dapat muncul akibat paparan silika kristalin dalam jangka panjang. Paparan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dapat menyebabkan silikosis, yakni penyakit paru kronis akibat terbentuknya jaringan parut pada paru. “Sifat debu silika ini tidak dapat dieliminasi oleh tubuh dengan cara apa pun. Akibatnya, timbul fibrosis atau jaringan parut permanen yang menurunkan fungsi paru secara ireversibel dan tidak bisa disembuhkan. Hanya dapat direhabilitasi,” tegasnya.
Untuk mengurangi risiko paparan, masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan berlindung di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela rapat. Jika mata terkena debu, segera bilas menggunakan air bersih atau steril dan jangan dikucek. Pakaian yang terpapar juga perlu dilepas, disimpan dalam kantong tertutup, kemudian tubuh dibersihkan.
Masyarakat juga disarankan menyiapkan perlindungan seperti goggles, masker penyaring partikel, serta pakaian tertutup. Kelompok rentan seperti penderita asma, anak-anak, bayi, dan lansia perlu memastikan obat rutin, termasuk inhaler bagi yang diresepkan, tersedia.
Dr. Venny mengingatkan pembersihan abu vulkanik juga harus dilakukan secara tepat. Penggunaan sapu atau alat peniup debu sebaiknya dihindari karena dapat membuat partikel kembali beterbangan. Permukaan yang terkena abu lebih aman dibersihkan menggunakan lap basah atau vacuum cleaner. “Jangan panik dan selalu pantau perkembangan situasi melalui media resmi,” imbaunya.
Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar material vulkanik juga dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.(tok)
