BUMDes Gapura Sidoarjo Kembangkan Wisata Petik Melon Hidroponik Berbasis Smart Farming

oleh -450 Dilihat
Oleh
TAMA

KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gapura di Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengembangkan destinasi wisata edukasi petik melon hidroponik berbasis smart farming.

Inovasi tersebut dikembangkan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa melalui pemanfaatan potensi lokal.

Destinasi wisata petik melon tersebut berada di dalam greenhouse seluas sekitar 400 meter persegi. Di dalamnya terdapat 1.030 tanaman melon varietas Intanon dan Sakata yang dibudidayakan secara intensif oleh para pemuda desa.

Bupati Sidoarjo Subandi mengapresiasi inovasi yang dikembangkan BUMDes Gapura. Menurutnya, pengembangan tersebut dapat menjadi contoh bagi desa lain dalam mengoptimalkan potensi wilayah melalui BUMDes.

“Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen memberikan pengawasan dan siap memberikan bantuan untuk pengembangan BUMDes, karena setiap desa di Sidoarjo memiliki karakteristik dan potensi ekonomi yang berbeda,” kata Subandi saat meresmikan lokasi wisata petik melon di Desa Candi Negoro, Selasa (8/9/2026).

Ia mengatakan pengembangan potensi lokal, seperti budidaya cabai, sayuran, perikanan hingga produk kuliner, perlu terus didorong agar setiap desa mampu menciptakan sumber-sumber ekonomi secara mandiri.

Dalam kesempatan tersebut, Subandi juga meninjau area greenhouse. Ia bahkan ikut memetik dan mencicipi melon varietas Intanon yang dibudidayakan BUMDes Gapura.

“Rasanya sangat manis, berbeda dan lebih enak dibandingkan melon biasa,” ujarnya, seperti dikutip dari infopublik.id.

Subandi menilai penggunaan greenhouse memberikan keuntungan karena mampu mengurangi risiko akibat perubahan cuaca. Kondisi suhu, kelembapan, dan tanaman dapat dikontrol lebih baik dibandingkan dengan budidaya di lahan terbuka.

“Kalau di persawahan, hujan sering menyebabkan gagal panen. Di sini lebih aman. Satu kali tanam membutuhkan waktu 70 hari sampai panen. Pendapatannya juga bagus, satu kali panen bisa mencapai lebih dari Rp35 juta,” katanya.

Baca Juga :  Pelajar NU Jember Antusias Ikuti Pelatihan Kontent Kreator

Ia mendorong desa-desa lain yang masih memiliki lahan tidak produktif untuk meniru langkah inovatif BUMDes Gapura dengan menyesuaikan jenis usaha terhadap potensi masing-masing wilayah.

Ketua BUMDes Gapura Candi Negoro, Ahmad Wildani Arifana, mengatakan melon dipilih karena merupakan salah satu buah yang banyak diminati masyarakat dan memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.

Dalam pengelolaannya, BUMDes Gapura menerapkan metode smart farming yang terintegrasi dengan sistem hidroponik. Teknologi tersebut digunakan untuk memantau berbagai parameter pertumbuhan tanaman.

Parameter yang dipantau antara lain kondisi akar, pertumbuhan batang, pembentukan buah, suhu, tingkat keasaman air atau pH, serta kecukupan nutrisi tanaman.

“Melalui sistem ini, pengelola tidak lagi harus melakukan pengecekan kondisi fisik tanaman secara manual setiap pagi dan sore. Parameter penting seperti suhu, pH air, dan kecukupan nutrisi dapat dipantau secara efisien melalui layar monitor,” jelas Ahmad.

Menurutnya, penerapan teknologi tersebut membantu pengelola melakukan pengawasan tanaman secara lebih efisien sekaligus menjaga kualitas hasil panen.

Melon hidroponik hasil budidaya BUMDes Gapura dipasarkan melalui konsep wisata edukasi petik langsung dengan harga sekitar Rp30.000 per kilogram.

Dalam satu kali masa panen, produksi melon diperkirakan mencapai sekitar 1,5 ton. Setiap buah memiliki bobot antara 1,2 hingga 2,6 kilogram.

Selain menjadi sarana pemasaran hasil pertanian, destinasi wisata petik melon tersebut juga dirancang sebagai fasilitas edukasi bagi masyarakat. Pengunjung dapat mempelajari secara langsung penerapan pertanian modern dan sistem hidroponik.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berharap inovasi BUMDes Gapura dapat mendorong desa-desa lain untuk mengembangkan potensi lokal sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa.(TAM)