Unusa-ITS Buka Jalur Dua Ijazah dalam Lima Tahun

oleh -18 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkuat kerja sama akademik melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Surabaya, Senin (7/9/2026). Kolaborasi ini membuka peluang mahasiswa Unusa mengikuti pembelajaran, riset, hingga melanjutkan studi di ITS.

Kerja sama tersebut mencakup empat skema utama, yakni credit transfer, joint/double degree, joint supervision, dan fast track S1-S2 terintegrasi. Salah satu yang paling menarik adalah program fast track lima tahun yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan S1 di Unusa selama empat tahun dan S2 di ITS pada tahun kelima.

Melalui skema itu, mahasiswa mulai mengambil mata kuliah S2 ITS pada semester 7 dan 8, kemudian melanjutkan semester 9 dan 10 di ITS. Jika memenuhi persyaratan, mahasiswa berpeluang memperoleh dua ijazah dalam waktu lima tahun.

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, mengatakan kerja sama tersebut bukan sekadar formalitas kelembagaan, tetapi upaya memperluas peluang akademik mahasiswa. “MoU ini bukan sekadar dokumen formalitas, melainkan sebuah payung kerja sama akademik yang menyatukan kekuatan medis dan humaniora Unusa dengan keunggulan sains dan teknologi yang dimiliki ITS,” terang Prof. Tri Yogi.

Sementara itu, Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, mengatakan mahasiswa Unusa akan mendapat kesempatan berinteraksi dan memperoleh pengalaman belajar di ITS, khususnya pada program studi yang tersedia di kedua perguruan tinggi.

Selain jalur pendidikan, kolaborasi juga mencakup joint supervision yang memungkinkan mahasiswa memperoleh bimbingan tugas akhir atau riset dari dosen Unusa bersama profesor maupun peneliti ITS. Skema ini diharapkan memperkuat kualitas riset sekaligus mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Menurut Prof. Tri Yogi, kolaborasi lintas kampus penting untuk membekali mahasiswa menghadapi perubahan teknologi dan dunia kerja. Mahasiswa didorong tidak hanya menguasai kompetensi bidangnya, tetapi juga aktif membangun jejaring, melakukan riset, berorganisasi, dan mengembangkan kemampuan lintas disiplin. “Kerja sama nasional dan internasional sudah kami bangun. Peluang-peluang akademik sudah kami siapkan. Namun semua itu tidak akan berarti jika mahasiswa menjadi pasif. Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, berorganisasi, melakukan riset, dan mengembangkan diri,” pungkas Prof. Tri Yogi.(tok)

Baca Juga :  Indonesia Beli Lahan dan Hotel untuk Pembangunan Kampung Haji