BGN Copot Kepala SPPG Kalitengah Sidoarjo Usai 748 Orang Terdampak Keracunan MBG

oleh -63 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
748 Orang Terdampak Keracunan MBG Sidoarjo, Kepala SPPG Kalitengah Dicopot. (Foto: Ist)

KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Badan Gizi Nasional (BGN) mencopot Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo, Rafli Ridho, setelah insiden keracunan massal yang diduga berkaitan dengan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pencopotan itu menjadi bagian dari sanksi BGN setelah melakukan penelusuran awal terhadap kasus tersebut. Sebelumnya, operasional SPPG Kalitengah juga disuspend berat selama 30 hari.

Wakil Kepala BGN Trenggono mengatakan kepala dapur dicopot karena dinilai lalai dan tidak menjalankan standar operasional prosedur (SOP).

“Dia sudah tidak bisa lagi menangani dapur karena kelalaian ataupun ketidakpatuhan terhadap SOP. Itu tanggung jawab kepala dapur,” kata Trenggono di Sidoarjo, Jumat (4/9/2026).

Meski demikian, BGN belum menjatuhkan sanksi kepada pemilik dapur. Sanksi saat ini ditujukan kepada SPPG dan kepala dapur.

“Begitu kejadian, dapurnya tidak dioperasionalkan dan kepala dapurnya dicopot,” ujarnya.

Trenggono mengatakan SPPG Kalitengah dinilai tidak menjalankan SOP dengan baik. BGN juga menemukan dugaan unsur kelalaian yang disengaja dalam proses pengiriman makanan.

Jika pelanggaran serupa kembali terjadi, sanksi terhadap SPPG bisa diperberat hingga penghentian operasional secara permanen.

“Apabila dapur nanti tidak melaksanakan SOP dengan baik, ada kesengajaan, dan tidak sesuai aturan BGN, bisa kita suspend permanen,” kata Trenggono.

Sebelumnya, Rafli juga menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut.

“Mohon maaf ya, saya menyesal,” kata Rafli kepada wartawan, Rabu (3/9/2026).

Kepala BGN Sudaryono mengatakan hasil penelusuran awal menunjukkan makanan MBG dari SPPG Kalitengah telah selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB.

Makanan tersebut seharusnya sudah dikonsumsi pada pagi hari. Namun, dalam pelaksanaannya, makanan baru dikirim ke sekolah sekitar pukul 11.30-11.40 WIB dan dikonsumsi setelah pukul 12.00 WIB.

Baca Juga :  Ekonom Nilai Pertumbuhan Kredit Perbankan Masih Bergantung pada Belanja Pemerintah

Menurut Sudaryono, jeda panjang antara makanan selesai dimasak, dikirim, hingga dikonsumsi menjadi salah satu hal penting yang sedang ditelusuri dalam kasus tersebut.

Ia bahkan menyebut terdapat dugaan kelalaian yang disengaja karena prosedur distribusi tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

“Ini kelalaian yang disengaja. Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja,” tegas Sudaryono.

Namun, penyebab pasti keracunan masih dalam proses investigasi.

Kasus ini bermula setelah ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa (1/9/2026).

Sejumlah pelajar dari sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.

Gejala yang dialami korban antara lain pusing, lemas, dan mual. Para korban kemudian dibawa ke sejumlah rumah sakit di Sidoarjo untuk mendapatkan penanganan.

Hingga Jumat (4/9/2026) pukul 08.00 WIB, tercatat 748 pasien terdampak insiden tersebut.

Dari jumlah itu, 20 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit, sementara 728 pasien telah keluar dari rumah sakit. (cit)