Khofifah dan Tiga Menteri Luncurkan Gernas RANA, Dorong Sekolah Jadi Ruang Aman dan Bebas Kekerasan

oleh -310 Dilihat

KILASJATIM.COM, Malang – Pemerintah resmi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di satuan pendidikan sebagai upaya memperkuat perlindungan anak dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk perundungan dan kekerasan seksual di lingkungan sekolah.

Peluncuran dilakukan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Kota Malang, bertepatan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026.

Acara tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi.

Peluncuran Gernas RANA ditandai dengan penekanan layar LED dan penandatanganan deklarasi dukungan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), sekaligus komitmen memperkuat budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa setiap anak berhak tumbuh dan berkembang di lingkungan yang aman, nyaman, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

“Momentum ini sangat penting untuk menegaskan bahwa hak setiap anak adalah tumbuh dan berkembang di lingkungan yang aman dan nyaman. Artinya, mereka harus terbebas dari segala bentuk kekerasan,” ujar Khofifah, Senin, 13/7/2026.

Menurut dia, sekolah bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi, karakter, dan kepercayaan diri.

Karena itu, ia menilai perlindungan terhadap anak harus menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat.

“Anak-anak adalah generasi penerus yang akan memegang estafet kepemimpinan. Ruang aman bagi mereka merupakan tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Khofifah juga mengajak para siswa agar tidak takut melaporkan apabila mengalami maupun menyaksikan tindakan kekerasan, baik fisik, verbal, seksual, maupun kekerasan di ruang digital.

Baca Juga :  Wamenlu Anis Matta Adakan Pertemuan Bilateral dengan Wamenlu Arab Saudi

“Kalau mengetahui atau mengalami kekerasan, jangan ragu menyampaikan kepada guru, orang tua, maupun pihak yang berwenang. Dengan keterlibatan orang dewasa, persoalan seperti ini dapat dicegah dan ditangani,” ujarnya.

Sementara itu, Menko PMK Pratikno mengatakan, pemerintah berkomitmen menghadirkan ruang aman bagi anak, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga, ruang publik, hingga ruang digital.

Ia mengajak pemerintah daerah, guru, dan orang tua bersama-sama memastikan anak memperoleh lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.

“Kalau anak mengalami kekerasan, dampaknya sangat besar terhadap perkembangan mereka di masa depan,” kata Pratikno.

Di sisi lain, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengungkapkan, tantangan perlindungan anak masih cukup besar. Berdasarkan data Simfoni PPA sepanjang 2025, tercatat 21.352 kasus kekerasan terhadap anak.

Sebanyak 62,19 persen korban merupakan anak perempuan, sementara 46,1 persen kasus berupa kekerasan seksual. Ironisnya, sekitar 71 persen kasus terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, yakni rumah tangga dan satuan pendidikan.

“Ayo kita jaga bersama-sama, jangan ada lagi bullying di antara anak-anak kita,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa Gerakan ASRI merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto yang kemudian diperkuat melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Ia juga mengapresiasi berbagai inovasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, termasuk program SIKAP yang dinilai sejalan dengan kebijakan nasional untuk mewujudkan sekolah yang ramah dan bebas dari kekerasan.(Friz)