Salah Satu Kisah Haji 2026: Guru Ngaji Sederhana Menjadi Tamu Allah, Kisah Abdul Kholiq Menggetarkan Hati

oleh -1719 Dilihat

KILASJATIM.COM, Gresik – Di balik keberangkatan jamaah haji tahun 2026 dari Embarkasi Surabaya, tersimpan banyak kisah haru yang sarat perjuangan. Salah satunya adalah perjalanan hidup Abdul Kholiq (57), guru ngaji asal Dusun Tempuran, Desa Pinggir, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, yang akhirnya berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu antrean selama 14 tahun.

Pria kelahiran Gresik, 3 Februari 1969 itu diberangkatkan sebagai jamaah haji melalui Kloter 43 SUB Embarkasi Surabaya tahun 2026, setelah mendaftar sejak 2012 dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas.
Hidup Sederhana, Mengabdi sebagai Guru Ngaji.

Abdul Kholiq bukanlah sosok dengan pekerjaan mapan. Ia tidak memiliki usaha besar maupun penghasilan tetap. Sehari-hari, ia mengabdikan diri sebagai guru ngaji, pembimbing tilawah Al-Qur’an, serta mengajar di lembaga pendidikan formal Madrasah Diniyah (MDS) dan Madrasah Aliyah (MA).

Di tengah kesederhanaan itu, ia harus menanggung tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga. Lima anaknya seluruhnya menempuh pendidikan dan mondok di pesantren. Dua di antaranya bahkan telah menjadi hafiz Al-Qur’an.

“Alhamdulillah semua anak bisa sekolah dan mondok. Dua anak juga sudah hafiz Al-Qur’an. Padahal saya hanya guru ngaji dan tidak punya pekerjaan tetap,” ujarnya.

Titik awal perjalanan hajinya bermula dari sebuah acara keagamaan di Mojokerto, saat ia diminta membaca qiraah. Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan ulama kharismatik KH Muhammad Huseini Ilyas.

Dalam pertemuan tersebut, sang kiai menanyakan apakah dirinya sudah mendaftar haji. Dari situlah doa dan dorongan itu bermula.

“Beliau bertanya, ‘Sudah daftar haji belum?’ Saya jawab belum. Beliau mendoakan saya agar segera bisa berangkat,” kenangnya.
Tak lama setelah itu, kakaknya mengajak dirinya bersama istri untuk mendaftar haji pada tahun 2012.

Saat itu, Abdul Kholiq hanya memiliki uang sekitar Rp300 ribu.
“Saya hanya punya Rp300 ribu, tapi ada bantuan talangan untuk bisa daftar dan dapat nomor porsi. Setelah itu saya cicil sedikit demi sedikit sampai lunas,” ujarnya.
Antrean Panjang dan Ujian Kehidupan
Setelah resmi mendapatkan nomor porsi, Abdul Kholiq menjalani masa tunggu panjang selama 14 tahun. Dalam rentang waktu itu, ia tetap menjalani kehidupan sederhana, mengajar ngaji, membimbing santri, dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Baca Juga :  Kemenhaj RI Siapkan Sweeping Jemaah di Mekkah Jelang Puncak Haji

Namun ujian hidup terus datang. Menjelang masa pelunasan, ia mengalami kecelakaan saat akan Rutinan Khotmil Qur’an Bit Tahfidz di Mojokertoi. Kakinya retak dan harus menggunakan alat bantu jalan selama berbulan-bulan.

“Saya kecelakaan saat akan mengaji. Kaki saya retak dan harus pakai tongkat. Hampir delapan bulan belum pulih,” katanya.

Di saat yang sama, kebutuhan keluarga dan anak-anak yang mondok tetap berjalan.
“Saya sempat tidak punya simpanan. Kalau ada uang, selalu saya kirim untuk anak-anak di pondok,” ujarnya.

Menjelang batas akhir pelunasan, Abdul Kholiq mengaku belum memiliki dana yang cukup. Namun ia tetap berdoa dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.
“Kalau ini memang panggilan Allah, maka pasti Allah akan mudahkan,” tuturnya.

Lima hari sebelum pelunasan ditutup, anak sulungnya yang Mondok di Pacul Gowang ( Tarbiyatun Nasyi’in ) Diwek Jombang, menyampaikan akan membantu pelunasan biaya haji orang tuanya.

“Anak saya bilang, ayah dan ibu tidak usah memikirkan pelunasan, biar saya yang melunasi,” katanya haru.
Bantuan tersebut mencapai sekitar Rp74 juta untuk dua orang, yakni dirinya dan sang istri.

“Saya dan istri menangis. Tidak menyangka Allah memberikan jalan melalui anak sendiri,” ujarnya.

Perjalanan Menuju Tanah Suci
Pada tahun 2026, Abdul Kholiq akhirnya resmi berangkat sebagai jamaah haji Kloter 43 SUB Embarkasi Surabaya. Ia mengaku seluruh perjalanan hidupnya sejak mendaftar hingga berangkat merupakan rangkaian pertolongan Allah SWT.

“Saya hanya berusaha, tapi Allah yang mengatur semuanya. Dari Rp300 ribu sampai bisa berangkat, semua karena Allah,” katanya.

Selama di Tanah Suci, Abdul Kholiq mengaku banyak belajar tentang makna ibadah, adab, dan menjaga hati. Sebelum berangkat, ia juga sempat sowan kepada para kiai dan jamaah haji untuk meminta doa serta ilmu.

Baca Juga :  Jemaah Haji Kloter 1-2 Masuk Asrama Haji, Langsung Jalani Pemeriksaan

“Saya belajar menjaga hati, lisan, dan niat. Karena di Tanah Suci, semua harus dijaga,” ujarnya.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat berada di Raudhah, Masjid Nabawi, Madinah. Di tempat itu, ia mengaku menyampaikan tiga doa utama di hadapan Allah SWT.

“Pertama saya salam kepada Rasulullah SAW dan memohon syafaat. Kedua saya bersyahadat dengan harapan diakui sebagai umat beliau. Ketiga saya memohon bimbingan dalam seluruh rangkaian ibadah haji,” tuturnya.

Ia juga mengaku merasakan ketenangan luar biasa saat berada di Raudhah hingga waktu salat Isya tiba.

“Kalau sudah di Raudhah, rasanya tidak ingin meninggalkan tempat itu. Itu kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan,” katanya.

Bagi Abdul Kholiq, perjalanan panjang ini menjadi bukti bahwa panggilan haji bukan semata soal kemampuan ekonomi, tetapi kehendak Allah SWT.

“Kalau Allah sudah memanggil hamba-Nya ke Baitullah, tidak ada yang mustahil. Saya hanya guru ngaji biasa, tapi Allah memuliakan dengan cara-Nya sendiri,” ujarnya.

Ia berharap kisahnya menjadi pengingat bahwa kesabaran, doa, dan keikhlasan akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Perjalanan Abdul Kholiq dari dusun kecil di Gresik menuju Makkah dan Madinah menjadi salah satu kisah haji 2026 yang sarat makna, tentang keyakinan bahwa takdir Allah selalu lebih indah dari rencana manusia. (FRI)