KILASJATIM.COM – Dini hari tadi, 8 Juni 2026. Sejarah baru saja ditulis. Bukan dengan tinta emas. Tapi dengan debu kapur karbonat. Di sebuah dinding vertikal yang bikin leher pegal hanya untuk melihatnya.
Namanya Putra Tri Ramadani. Cah Kediri. Panggilannya unik dan merakyat: Srondeng.
Ia baru saja memastikan diri jadi juara dunia. Meraih medali emas di World Climbing Series. Di Praha, ibu kota Republik Ceko.
Kategorinya lead. Ini bukan sembarang kategori. Ini adalah arena yang selama puluhan tahun selalu menjadi taman bermain bule-bule Eropa atau monster-monster Asia Timur.
Indonesia biasanya cuma jagoan di kategori speed. Merayap secepat kilat ke atas seperti Spiderman kesurupan. Menang dalam hitungan detik.
Kalau lead? Ceritanya lain. Sangat susah. Butuh napas panjang. Butuh strategi membaca teka-teki rute yang rumit. Butuh kekuatan jari yang sanggup menahan berat badan di satu ujung tebing mungil. Butuh otot yang tidak gampang kram saat bergelantungan belasan menit.
Tapi Srondeng mematahkan mitos itu. Jagoan-jagoan lead dunia ia kalahkan. Tangannya kokoh, mentalnya baja. Ia merayap lambat, tapi pasti. Hingga ke atas meski tak sampai puncak.
Ini tamparan manis. Di saat yang sangat tepat.
Coba tengok bulu tangkis kita hari ini. Olahraga kebanggaan bangsa. Yang dulu selalu bikin lagu Indonesia Raya berkumandang di mana-mana.
Kini sedang merosot tajam. Makin susah cari medali di level elit dunia. Apalagi medali emas. Prestasi menurun, grafiknya memerah. Fans gemas bukan main. Pengurus sibuk rapat, sibuk evaluasi yang entah kapan ketahuan ujung pangkalnya. Bulu tangkis sedang bingung mencari arah.
Lalu muncullah panjat dinding. Diam-diam. Bergerak dalam sunyi. Tiba-tiba sudah di puncak. Tidak ada keriuhan di sini. Tidak ada stasiun TV nasional yang rela menyiarkan langsung perjuangannya. Padahal ini partai final kejuaraan dunia. Ada anak bangsa yang sedang mati-matian mengharumkan nama negaranya.
Di Indonesia, tidak ada siaran langsung di televisi. Sebagian orang hanya menonton lewat Youtube atau siaran streaming dari gawainya. Layar kaca kita sepi. Stasiun televisi sepertinya lebih sibuk menayangkan siaran ulang sinetron atau acara komedi yang sudah tidak lucu.
Di sektor putri, ada juga Alma. Langkahnya memang terhenti di semifinal. Tapi Alma berhasil menempati peringkat 10 dunia. Sebuah prestasi yang sama sekali tidak main-main. Sayang seribu sayang, nasib Alma sama persis: tak ada satu pun kamera televisi nasional yang sudi menyorot keringatnya.
Tebing buatan itu kini jadi penyelamat wajah olahraga Indonesia di mata dunia. Menjadi oase sejuk di tengah dahaga medali.
Tapi, mari kita jujur-jujuran. Bagaimana soal dana?
Tolong, jangan bandingkan dengan sepak bola. Jangan. Bisa bikin sakit hati yang tak kunjung sembuh.
Sepak bola itu anak emas negeri ini. Tidak, lebih tepatnya anak berlian. Dananya miliaran. Ratusan miliar. Triliunan. Dari APBN, sponsor BUMN yang berderet-deret, sampai guyuran kantong pribadi para konglomerat yang gila bola.
Fasilitasnya megah. Rumputnya wajib standar FIFA. Pelatihnya didatangkan dari ujung dunia dengan gaji selangit. Pemusatan latihannya di luar negeri.
Hasilnya? Ya, begitu-begitu saja. Prestasinya mentok. Lebih sering sibuk ribut di media sosial. Memang ada hasil sedikit dari naturalisasi, lumayan bikin bangga sesaat. Tapi trofi juara dunia? Jauh panggang dari api.
Sementara panjat dinding?
Boro-boro rumput hibrida yang harus disiram otomatis. Papan panjat di daerah-daerah pelosok banyak yang sudah melotok dimakan cuaca. Poin-poin pegangannya sudah licin. Kusam. Sering copot sendiri.
Urusan dana? Bak bumi dan langit dengan sepak bola. Atau lebih tepatnya: bak inti bumi dan galaksi Andromeda. Sangat jauh.
Di Jawa Timur, setahu saya anggaran untuk panjat tebing dari KONI setempat di kisaran Rp200 juta. Setahun. Untuk macam-macam kebutuhan. Saya kurang tahu untuk dana dari KONI pusat.
Atlet panjat kita sering latihan dengan alat seadanya. Berjemur di bawah terik matahari. Sendirian. Sepi dari sorotan lampu kamera. Hanya ada suara deru napas yang ngos-ngosan dan gesekan sepatu karet yang menipis.
Hari ini, setelah Srondeng juara dunia, semua akan berebut panggung. Itu sudah tradisi. Pasti akan ada banner besar di perempatan jalan. Tulisannya terang benderang: “Selamat dan Sukses atas Juara Dunia”. Tapi anehnya, foto pejabatnya dicetak jauh lebih besar dari foto Srondeng.
Kita pantas menagih: pembinaannya bagaimana?
Apakah medali emas Srondeng ini hasil dari cetakan sistem olahraga kita yang hebat? Ataukah sekadar kebetulan? Kebetulan ada anak bangsa yang gigihnya minta ampun. Atah kebetulan ia dilatih oleh pelatih yang ingini melihat anak asuhnya terbang tinggi?
Pemerintah harusnya tersentil. Anggaran olahraga kita triliunan. Ke mana saja mengalirnya? Mengapa cabang yang rutin mengharumkan nama bangsa justru sering luput dari perhatian utama? Masa iya harus tunggu viral dan juara dunia dulu, baru fasilitas latihan diperhatikan?
Panjat dinding sudah membuktikan. Mereka tidak butuh drama panjang. Tidak butuh stadion ber-AC atau sorotan berlebihan.
Mereka cuma butuh dinding yang layak, poin yang kuat, tali pengaman, gizi konsumsi, vitamin untuk kebugaran tubuh, dan sedikit keadilan anggaran.
Srondeng tersenyum kalem di podium tertingginya. Ia membawa nama Indonesia menembus awan. Ia menampar kita semua. Menyadarkan kita bahwa di tengah seretnya prestasi raket dan borosnya anggaran bola tendang, ada kebanggaan luar biasa yang merayap naik di tembok-tembok yang sunyi.
Teruslah memanjat, Srondeng. Agar muncul Srondeng-Srondeng baru dari Nusantara. Biar mereka yang di bawah terus mendongak melihatmu. Sambil mikir.
