KILASJATIM.COM, Bondowoso – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memantapkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi tahun 2026 melalui penguatan koordinasi dan integrasi sistem digital lintas sektor. Langkah ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana yang menghadirkan seluruh perangkat daerah, instansi vertikal, hingga elemen masyarakat.
Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi, menegaskan bahwa penanggulangan bencana harus dipahami secara menyeluruh, mulai dari tahap prabencana, saat bencana terjadi, hingga pascabencana.
“Kita harus melihat secara utuh. Dari prabencana, saat bencana, hingga pascabencana. Semua tahapan itu harus kita siapkan bersama,” ujarnya.Jum’at (20/2/2026).
Ia mengajak seluruh perangkat daerah, para camat, serta unsur masyarakat untuk memiliki kesadaran kolektif dalam menghadapi bencana. Sinergi tersebut melibatkan berbagai pihak seperti PMI, PLN, Baznas, Perhutani, Bank Jatim, serta unsur teknis lainnya agar respons berjalan cepat dan terkoordinasi.
Tak hanya memperkuat koordinasi, Pemkab Bondowoso juga mengembangkan sistem berbasis digital. Aplikasi kebencanaan yang diinisiasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini diintegrasikan dengan Public Service Center (PSC) milik Dinas Kesehatan.
Menurut Sekda, integrasi ini memungkinkan seluruh pihak bergerak secara simultan begitu ada laporan atau indikasi potensi bencana. Melalui digital mapping, wilayah rawan telah terpetakan sehingga informasi tidak lagi bersifat parsial, melainkan langsung diteruskan kepada perangkat daerah teknis untuk segera mengambil langkah nyata.
Dalam skema tersebut, BPBD dapat segera melakukan asesmen awal dan gerak cepat penanganan. PSC Dinas Kesehatan langsung menurunkan tim medis. PLN memastikan pasokan listrik tetap menyala, Telkom menjaga jaringan komunikasi tetap aktif, sementara Diskominfo mengoordinasikan arus informasi agar tetap terpusat dan akurat.
Selain kesiapan sistem dan respons darurat, Sekda juga menekankan pentingnya langkah preventif sejak dini. Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat harus diperkuat, termasuk gerakan pembersihan drainase, normalisasi sungai, serta pengurangan sampah guna meminimalkan risiko banjir dan dampak cuaca ekstrem.
“Langkah sejak dini itu penting. Jangan menunggu terjadi bencana. Kita harus sudah tahu apa yang harus dilakukan, termasuk pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana,” tegasnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor, dukungan teknologi, serta kesadaran bersama, Pemerintah Kabupaten Bondowoso optimistis kesiapsiagaan menghadapi bencana akan semakin solid. Tujuannya satu: meminimalkan risiko dan memastikan masyarakat tetap aman serta terlindungi dalam setiap fase kebencanaan.(wan)
