Dokumenter Titik Buta Karya Mahasiswa UK Petra Kupas Persoalan Kota Surabaya

oleh -371 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Mahasiswa Creative Media Communication angkatan 2023 Universitas Kristen Petra (UK Petra) membawa karya film dokumenter mereka ke layar bioskop komersial melalui kegiatan Screening Film Dokumenter bertajuk Titik Buta, Kamis (12/2/2026) malam di CGV Maspion Square Surabaya.

Tiga film yang ditayangkan mengangkat beragam persoalan sosial di Surabaya, mulai dari food waste, sengketa lahan bersejarah, hingga dampak urban heat island di kawasan padat penduduk. Seluruhnya mengusung benang merah yang sama: menyoroti “titik buta” atau realitas yang kerap luput, diabaikan, bahkan dinormalisasi masyarakat.

Dosen pengampu mata kuliah Produksi Film Dokumenter UK Petra, Daniel Budiana, mengatakan pemutaran di bioskop komersial menjadi agenda rutin sejak 2021 sebagai bagian dari pengalaman industri bagi mahasiswa. “Sejak tahun 2021, kami secara rutin membawa karya mahasiswa ini ke layar bioskop komersial seperti CGV Maspion agar dapat dinikmati khalayak luas. Setiap tahunnya topiknya berbeda-beda, namun harapannya agar para mahasiswa memiliki pengalaman otentik dalam merasakan dinamika kehidupan dunia industri secara langsung,” ujarnya.

Daniel menjelaskan, tahun ini terdapat tiga film yang diproduksi secara berkelompok oleh enam hingga tujuh mahasiswa selama empat bulan, sejak September hingga Desember 2025. Prosesnya meliputi riset lapangan intensif, produksi, hingga pascaproduksi. “Meski berbeda objek, ketiganya memiliki benang merah yaitu menyoroti titik buta yang kerap tidak disadari, diabaikan, atau bahkan dinormalisasi oleh masyarakat,” katanya.

Daniel juga berharap bahwa karya para mahasiswa ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas. “Sehingga masyarakat juga melihat bahwa ada hal-hal atau persoalan-persoalan yang memang ada dan terjadi di tengah-tengah keseharian masyarakat itu sendiri. Itu juga harapan kami,” harap Daniel.

Film pertama berjudul All You Can’t Eat karya Whitnie Odelyn Siauw dan tim. Mengangkat ironi tingginya angka food waste di tengah masih banyaknya masyarakat yang kesulitan mengakses makanan layak. Film tersebut mengajak penonton melihat pemborosan makanan bukan sekadar konsekuensi gaya hidup modern, tetapi persoalan sosial dan ekologis yang serius.

Baca Juga :  PCU Choir Sabet Tiga Emas di Malaysia

Film kedua, Ini Belum Selesai, garapan Shanelle Keisha Susanto dan tim, memotret perjuangan warga Tambak Bayan, kampung pecinan tertua di Surabaya, yang sejak 2009 terlibat sengketa tanah dengan pihak swasta. Film ini tidak hanya menyoroti konflik hukum, tetapi juga perjuangan warga melalui jalur kesenian sebagai bentuk perlawanan sosial.

Film ketiga yang diputar berjudul Rail Estate karya Nathalie Celine Gunawan dan tim mengangkat isu kesehatan publik di kawasan Dupak Magersari, kampung pinggir rel yang terdampak fenomena urban heat island. Film ini menyoroti bagaimana warga menghadapi suhu ekstrem dan minimnya ruang hijau, serta mempertanyakan peran struktural pemerintah dalam mitigasi panas perkotaan.

Salah satu penonton film yang juga warga asli kampung Tambak Bayan, Lim Kiem Hau mengaku senang kampung tempat tinggalnya dengan berbagai persoalan krusialnya terkait sengketa tanah dijadikan materi dalam film dokumenter karya para mahasiswa UK Petra Surabaya. “Semoga semakin banyak orang yang melihat bahwa persoalan sengketa tanah di Tambak Bayan sampai saat ini belum selesai,” ujar Gepeng nama populer Lim Kiem Hau.

Seluruh film dalam proyek Titik Buta telah didaftarkan ke berbagai festival film nasional dan internasional, di antaranya Globale Mittelhessen di Jerman, Lenses Vancouver International Film Festival, Pigdon Street International Film Festival di Islandia, Freedom Film Fest Malaysia, hingga Seoul Human Rights Film Festival.

Daniel berharap, kehadiran film-film ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang refleksi publik. “Lebih dari sekadar tontonan, kehadiran film-film ini diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk lebih peka dan memberikan perhatian terhadap isu-isu sosial di sekitar yang selama ini jarang terdengar atau luput dari perhatian kolektif,” tutup Daniel.(tok)