KILASJATIM.COM, SURABAYA – Kuliah Pakar di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengupas persoalan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia, masih seperti fenomena gunung es, banyak yang tak tampak di permukaan, tapi nyata dan terus tumbuh. Ini menjadi sorotan tajam melalui pemaparan Ukai Saito, pakar pendidikan disabilitas dari Jepang.
Saito menyebut bahwa kesalahan memperlakukan ABK kerap dilakukan secara tidak sadar, bahkan oleh tenaga pendidik sekalipun. Ia mencontohkan, kebiasaan menggenggam pergelangan tangan anak saat menuntun mereka berjalan sebenarnya bentuk dominasi yang keliru. “Yang benar, ulurkan tangan kita dan biarkan anak yang menggenggam jari kita. Itu berarti dia yang memegang kendali,” terang Saito.
Dalam forum ilmiah itu, Saito memperkenalkan modul Japannese Seven Key Point (JsKeps*)—metode pendampingan ABK yang telah diterapkan di beberapa negara. Metode ini menekankan tujuh langkah kunci mulai dari asesmen, pelibatan orang tua, penyesuaian lingkungan belajar, hingga cara memberi penilaian perkembangan siswa.
Tak sekadar menyampaikan teori, Saito mengajak para peserta mempraktikkan langsung teknik-teknik dasar untuk membangun motorik halus anak, dari cara memegang pensil dan gunting, hingga mewarnai bentuk geometri. Bahkan cara menggunting pun dibedah hingga ke detail pergerakan tangan. “Bukan guntingnya yang digerakkan. Tapi tangan kiri yang menarik kertas sampai kertasnya terpotong sendiri,” jelasnya sambil memperagakan.
Salah satu sesi yang menyita perhatian adalah saat peserta diminta mewarnai gambar segitiga yang terbagi dalam beberapa bidang. Banyak yang langsung mengisi bidang kecil terlebih dahulu, padahal menurut Saito, seharusnya dimulai dari bidang terbesar. “Melatih motorik halus harus dimulai dari yang mudah. Semakin kecil bidangnya, semakin tinggi koordinasi dan konsentrasi yang dibutuhkan,” katanya.
Dari Jepang, Saito membawa pesan penting: mendidik ABK harus dilakukan secara ilmiah dan terencana. Ia bahkan mengingatkan, di negaranya puluhan ribu kasus orang tua bunuh diri terjadi karena merasa tak sanggup merawat anak ABK. Ia berharap Indonesia tak menunggu tragedi serupa untuk mulai memberi prioritas terhadap pendidikan inklusif.
Kuliah Pakar ini membuka mata banyak peserta, terutama para guru dan orang tua, bahwa menangani ABK bukan soal kasih sayang semata tetapi juga ilmu, metode, dan ketelatenan.(tok)
