Festival Ngopi Sepuluh Ewu Banyuwangi Diserbu Ribuan Wisatawan, Kopi dan Kuliner Using Disajikan Gratis

oleh -376 Dilihat

KILASJATIM.COM – Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir kembali menyedot perhatian wisatawan. Ribuan pengunjung memadati Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu malam (8/11/2026), untuk menikmati tradisi ngopi bersama yang disuguhkan secara gratis oleh masyarakat setempat.

Wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara turut meramaikan festival tahunan tersebut. Mereka menikmati sajian kopi khas Banyuwangi sekaligus mencicipi aneka kudapan tradisional masyarakat Using yang disiapkan warga di sepanjang jalan utama Desa Kemiren.

Memasuki penyelenggaraan tahun ke-13 sejak pertama kali digelar pada 2014, Festival Ngopi Sepuluh Ewu menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan Banyuwangi.

Suasana festival semakin semarak ketika warga membuka halaman rumah masing-masing untuk menyambut para tamu. Ribuan cangkir kopi disajikan secara cuma-cuma sebagai bentuk keramahan dan tradisi masyarakat Using dalam menerima pengunjung.

Tidak hanya kopi, wisatawan juga dimanjakan dengan beragam kudapan tradisional khas Kemiren. Mulai dari kue kucur, tape ketan yang dibungkus daun kemiri, hingga pisang goreng menjadi sajian yang dapat dinikmati pengunjung.

Wisatawan Mancanegara Terpikat Keramahan Warga Kemiren

Keunikan Festival Ngopi Sepuluh Ewu juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Sejumlah turis dari berbagai negara tampak menikmati suasana kebersamaan sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat Desa Kemiren.

Jay, wisatawan asal Kanada, mengaku terkesan dengan keramahan warga yang menyambut pengunjung dengan secangkir kopi gratis.

“Kami disambut sangat ramah, masyarakat sini memberikan secangkir kopi gratis dan rasanya sangat enak,” kata Jay, Sabtu (7/11/2026).

Antusiasme serupa disampaikan Sarah, wisatawan asal Spanyol. Ia mengaku senang karena dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat dan merasakan suasana kehidupan budaya lokal.

Sementara itu, Kazuki Yoshida, wisatawan asal Jepang, mengaku terkesan dengan beragam kuliner tradisional khas Banyuwangi yang disajikan selama festival berlangsung.

Baca Juga :  Esther Aesthetic Clinic Luncurkan MMFU Ultraformer untuk Wajah dan Tubuh Lebih Kencang Tanpa Downtime

Kehadiran wisatawan mancanegara tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal seperti Festival Ngopi Sepuluh Ewu memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari berbagai negara.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Jadi Upaya Melestarikan Budaya Using

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar kegiatan menikmati kopi bersama, melainkan bagian dari upaya menjaga tradisi masyarakat Using sekaligus memperkuat persaudaraan.

Menurut Ipuk, kebiasaan menyuguhkan kopi kepada tamu merupakan cerminan nilai gotong royong, keramahan, dan keterbukaan masyarakat Desa Kemiren.

“Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong. Masyarakat ikhlas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan,” ujar Ipuk.

Ia menilai, tradisi sederhana tersebut memiliki nilai sosial yang penting untuk terus dipertahankan di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin, menjelaskan bahwa Festival Ngopi Sepuluh Ewu merupakan bentuk pelestarian budaya dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu.

Tradisi tersebut dikenal dengan filosofi suguh, gupuh, lungguh. Suguh berarti menyajikan hidangan kepada tamu, gupuh menggambarkan sikap antusias dalam menyambut kedatangan tamu, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat duduk yang nyaman.

Menurut Arifin, filosofi tersebut menjadi identitas keramahan masyarakat Kemiren yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu, nilai-nilai budaya tersebut diperkenalkan secara langsung kepada generasi muda sekaligus wisatawan domestik dan mancanegara.

Lebih dari sekadar festival kuliner, Ngopi Sepuluh Ewu menjadi ruang pertemuan budaya yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Using. Keramahan warga, sajian kopi gratis, dan kuliner tradisional menjadikan Desa Kemiren sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang menarik di Banyuwangi. (ASZ)