KILASJATIM.COM, Surabaya – Empat kali gagal seleksi Tentara Nasional Indonesia (TNI) tak membuat Nicholas Permata Yudhistira menyerah mengejar masa depan. Mahasiswa D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu justru berhasil menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan predikat cumlaude, meski harus bekerja sebagai penjaga warung kopi dan pengemudi ojek. Kisah Nicholas menjadi salah satu cerita inspiratif dalam Wisuda ke-55 Umsura yang diikuti 1.211 wisudawan.
Sebelum kuliah, Nicholas sempat empat kali mencoba peruntungan mengikuti seleksi TNI. Setelah gagal, ia membuka warung kopi. Keinginan memperbaiki masa depan dan dorongan sang nenek kemudian memantapkannya melanjutkan pendidikan tinggi. “Saya punya prinsip tidak mau hanya begini-begini saja. Akhirnya nenek saya mendorong untuk kuliah,” ungkap Nicholas.
Selama kuliah, ia tetap bekerja untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Bahkan, Nicholas kerap menjaga warung hingga tengah malam atau pukul 01.00, kemudian mengikuti perkuliahan keesokan paginya. Ia juga harus membagi waktu ketika menjalani praktik rumah sakit dengan sistem tiga shift.
Jarak tempat tinggalnya di Waru menuju kampus Umsura di Mulyorejo yang membutuhkan waktu sekitar satu jam turut menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, Nicholas mengaku pengalaman bekerja sambil kuliah mengajarkannya tentang kemandirian dan tanggung jawab.
“Kalau capek itu pasti. Tetapi dari capek itu kita bisa bangga karena punya penghasilan sendiri dan uang sendiri. Kalau mau apa-apa tidak harus meminta kepada orang tua. Bahkan, kita juga bisa membantu orang tua,” tuturnya.
Ia mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu dengan predikat cumlaude. Menurutnya, pekerjaan sebagai penjaga warung kopi maupun pengemudi ojek bukan sesuatu yang perlu dipermalukan selama dilakukan dengan niat baik.
Nicholas berpesan kepada generasi muda agar bersungguh-sungguh menjalani pilihan dan bertanggung jawab terhadap masa depan. “Jangan pernah setengah-setengah melakukan sesuatu yang sudah terlanjur kita pilih. Kalau kita pintar menghabiskan uang, kita juga harus pintar mencari uang,” pesannya.
Perjalanan Nicholas membuktikan kegagalan meraih satu cita-cita bukan akhir dari segalanya. Ketekunan, kemandirian, dan kemauan belajar membuka jalan lain untuk meraih masa depan.(tok)
