National Hospital Hadirkan Teknologi Neurosurgery Ultra High Precision 0.1 Milimeter dan Terintegrasi dari MRI Hingga CT Scan

oleh -29 Dilihat
Peluncuran layanan bedah saraf modern integrasi teknologi neurosurgery berpresisi tinggi hasil kolaborasi National Hospital, National Hospital Neuroscience Center (NHNC), Medtronic, GE HealthCare, Siemens Healthineers, dan Elo Karsa Utama yang berlangsung Kamis  (29/10/2026). (ist/dok) 

KILASJATIM. COM, Surabaya – National Hospital  mengembangkan layanan bedah saraf modern integrasi teknologi neurosurgery berpresisi tinggi.  Mengusung tema “The Future of Neurosurgery: Ultra High Precision 0.1 Millimeter”, peluncuran fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi National Hospital, National Hospital Neuroscience Center (NHNC), Medtronic, GE HealthCare, Siemens Healthineers, dan Elo Karsa Utama yang berlangsung Kamis  (29/10/2026).

Kehadiran teknologi ini semakin menguatkan posisi National Hospital sebagai salah satu pusat layanan kesehatan berteknologi maju di Indonesia, sekaligus menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi medis untuk mendukung pelayanan yang semakin presisi.

CEO National Hospital Ang Hoey Tiong mengatakan, integrasi sistem tersebut mendukung visualisasi anatomi yang lebih komprehensif serta membantu dokter dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan bedah saraf sesuai kondisi klinis pasien.

“Sistem ini mengintegrasikan data pencitraan MRI dan CT scan sehingga dokter dapat memantau posisi instrumen bedah secara langsung saat operasi berlangsung. Rumah sakit membeli sendiri perangkat tersebut sebagai bagian dari investasi untuk memperkuat layanan bedah saraf. Kepemilikan perangkat diharapkan mendukung ketersediaan teknologi dan memudahkan rumah sakit mengembangkan layanan sesuai kebutuhan pasien.
“Alat yang kami bawa ini tidak pinjam, kami beli agar layanan di National Hospital lebih cepat,” kata Ang.

Kepemilikan langsung atas rangkaian teknologi ini menjadi langkah strategis National Hospital dalam memperkuat kapasitas layanan neurosains sekaligus meningkatkan kapabilitas rumah sakit dalam mengadopsi teknologi medis mutakhir.

Teknologi yang dihadirkan meliputi MRI 3T SIGNA™ Architect Air dengan 128-channel dan teknologi AI, CT Scan SOMATOM Force dengan kemampuan 1152 slice dalam satu kali pemindaian, serta 3D Brain Mapping dan neuronavigasi.

Didukung tim dokter dengan keahlian di bidang bedah saraf vaskular, bedah saraf fungsional, dan neuro-onkologi, National Hospital terus mengembangkan layanan multidisiplin yang mengintegrasikan keahlian medis dan inovasi teknologi, dengan tetap mengutamakan kebutuhan serta keselamatan pasien.

Baca Juga :  Kanwil Pajak Surabaya Berhasil Amankan Target Penerimaan Pajak 100 Persen

Di kesempatan yang sama, Dr. dr. Achmad Fahmi, Sp. BS (K), NEURO FUNCTIONAL SURGEON menyampaikan,  neuronavigasi bekerja menyerupai aplikasi peta digital yang menunjukkan posisi dan arah perjalanan. Bedanya, sistem ini digunakan untuk memandu instrumen bedah menuju bagian tubuh yang menjadi sasaran tindakan.

“Dengan alat navigasi ini, kita bisa mengetahui area otak yang ingin dituju, baik untuk memasang sesuatu, mengambil jaringan, maupun melakukan tindakan lainnya. Ketika instrumen bergerak, posisinya dapat dipantau secara langsung melalui sistem,” kata Fahmi dalam peluncuran teknologi tersebut di Auditorium Ang Kang Hoo, National Hospital Surabaya, Kamis (29/10).

Sistem tersebut tidak hanya digunakan dalam operasi otak, tetapi juga dapat membantu tindakan pada tulang belakang. Misalnya, operasi untuk menangani saraf terjepit, trauma tulang belakang, hingga pemasangan sekrup untuk menstabilkan tulang belakang.

Dengan panduan posisi instrumen secara langsung, dokter dapat menentukan jalur tindakan secara lebih terarah. Hal ini berpotensi membantu mengurangi kebutuhan membuka jaringan lebih luas, terutama pada kasus tertentu yang lokasi tumornya dapat dipetakan dengan jelas melalui pencitraan.

“Tngkat akurasi navigasi dapat mencapai kurang dari satu milimeter dalam kondisi dan prosedur yang sesuai. Namun, ketepatan tersebut bergantung pada proses registrasi data pasien serta terjaganya posisi kepala selama operasi.

Karena itu, kepala pasien perlu distabilkan menggunakan perangkat khusus. Jika posisi pasien berubah sehingga memengaruhi kesesuaian peta anatomi dengan kondisi aktual, tim medis perlu melakukan registrasi ulang untuk memastikan panduan navigasi tetap akurat, ” paparnya.

Fahmi menegaskan manfaat utama teknologi tersebut bukan semata-mata mempercepat operasi, melainkan meningkatkan ketepatan tindakan dan membantu dokter mencapai lokasi sasaran tanpa harus mencari jalur secara berulang. Efisiensi waktu dapat menjadi manfaat tambahan, bergantung pada jenis kasus dan kompleksitas operasi.

Baca Juga :  Influenza A di Surabaya, Dinkes Pastikan Tak Ada RS Penuh akibat Lonjakan Kasus

“Teknologi ini bukan robot yang mengambil alih tindakan dokter. Sistem ini membantu menunjukkan posisi instrumen secara langsung, sedangkan dokter tetap mengendalikan dan melakukan operasi,” tegasnya.

Integrasi MRI, CT Scan, dan Pemetaan Otak

Teknologi neuronavigasi ini didukung sejumlah perangkat pencitraan medis, yakni MRI 3T SIGNA Architect Air dengan 128 kanal dan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta CT scan SOMATOM Force yang diklaim mampu menghasilkan hingga 1.152 irisan citra dalam satu kali pemindaian.

Data hasil pencitraan tersebut diintegrasikan melalui sistem pengelolaan dan pertukaran gambar medis atau Picture Archiving and Communication System (PACS).  Data anatomi pasien kemudian digunakan untuk membantu dokter memetakan lokasi tindakan dan menentukan jalur instrumen bedah.

Dokter Spesialis Bedah Saraf Fungsional National Hospital, dr. Heri Subianto, Sp.BS (K), mengatakan teknologi yang lebih baru juga menawarkan peningkatan dalam pengolahan dan penyajian data pencitraan. Salah satunya berkaitan dengan traktografi, yakni pemetaan jalur serabut saraf di otak untuk membantu dokter memahami hubungan antara area yang akan ditangani dan struktur saraf di sekitarnya.

Menurut Heri, pada teknologi sebelumnya, pengolahan data tertentu perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum hasilnya dimasukkan ke sistem navigasi. Pada sistem terbaru, proses tersebut dapat dilakukan lebih terintegrasi sehingga membantu dokter memperoleh informasi anatomi yang diperlukan untuk perencanaan operasi.

Neuronavigasi juga berpotensi membantu penempatan kateter secara lebih tepat, termasuk pada tindakan tertentu untuk menangani perdarahan otak. Panduan lokasi dapat membantu dokter mengarahkan instrumen menuju area sasaran dan mendukung proses pengambilan jaringan atau penanganan sumber masalah sesuai kondisi pasien. Meski demikian, penggunaan teknologi tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan klinis, kondisi pasien, dan pertimbangan dokter yang menangani. (nov)