KILASJATIM.COM, Malang – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, belum sepenuhnya padam setelah melanda area sekitar 15,5 hektare. Petugas mengerahkan penyemprotan dari darat hingga water bombing menggunakan helikopter untuk menjangkau titik api yang masih menyimpan bara di dalam tumpukan sampah.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wali Kota Malang Wahyu Hidayat meninjau penanganan kebakaran tersebut. Khofifah mengapresiasi kerja petugas dan relawan, sekaligus mengingatkan agar keselamatan personel tetap menjadi prioritas.
Kebakaran yang terjadi sejak Rabu (21/10) itu masih menyisakan kepulan asap di sejumlah titik. Pemadaman tidak bisa hanya dilakukan dengan menyiram permukaan sampah karena bara api dapat bertahan di bagian dalam timbunan.
Petugas perlu mengurai tumpukan sampah agar air menjangkau sumber panas, lalu melakukan penyiraman dan pendinginan berulang. Kondisi timbunan yang tidak stabil juga berisiko ambles dan membahayakan petugas.
“Terima kasih kepada relawan yang luar biasa. Mereka harus menanggung risiko yang berat,” kata Khofifah dalam keterangannya yang diterima, Senin (26/10/2026).
Ia juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sembarangan karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.
Untuk membantu pemadaman, operasi udara menggunakan helikopter dilakukan guna menjangkau titik-titik yang sulit ditangani secara manual. Dukungan water bombing untuk TPA Supit Urang mulai diperoleh pada Jumat (23/10).
Berdasarkan laporan BPBD Jawa Timur per Minggu (25/10) pukul 18.00 WIB, helikopter PK-DBM dengan kapasitas wadah air 1.000 liter telah melakukan 21 kali water bombing. Total air yang dijatuhkan mencapai 21.000 liter.
Rinciannya, enam kali pengeboman air pada sortie pertama, delapan kali pada sortie kedua, dan tujuh kali pada sortie ketiga.
Khofifah mengatakan dukungan udara harus disesuaikan dengan kebutuhan penanganan di lapangan, mengingat sejumlah wilayah lain di Jawa Timur juga menghadapi kebakaran.
Sementara itu, Wahyu Hidayat menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemprov Jatim, termasuk bantuan water bombing. Menurutnya, kebakaran timbunan sampah lebih sulit ditangani jika hanya mengandalkan pemadaman manual karena bara di bagian bawah harus ikut didinginkan.
Wahyu menyebut kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembakaran di sisi selatan area TPA. Angin kencang kemudian diduga mempercepat perambatan api ke area sekitarnya.
Ia juga menyampaikan dugaan bahwa pembakaran dilakukan untuk membuka lahan. Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan resmi. Penyebab pasti kebakaran masih diselidiki Polresta Malang Kota.
Di tengah proses pemadaman, Khofifah kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun melakukan aktivitas lain yang berpotensi memicu api, terutama saat kondisi kering.
Pemprov Jatim, lanjutnya, terus berkoordinasi dengan Pemkot Malang, BPBD, pemadam kebakaran, TNI-Polri, instansi teknis, dan relawan untuk mendukung penanganan kebakaran sekaligus menjaga keselamatan petugas. (cit)
