KILASJATIM. COM, Surabaya – Inovasi di bidang medis terus berkembang pesat, memberikan harapan baru bagi para penderita penyakit jantung koroner. Salah satu terobosan yang kini semakin diminati oleh pasien internasional, termasuk dari Indonesia, adalah operasi bypass jantung minim sayatan atau Minimally Invasive Heart Surgery (MIHS CABG).
Konsultan Ahli Bedah Kardiotoraks dari Cardiac Vascular Sentral Kuala Lumpur (CVSKL) Dato’ dr. Mohamad Arif Muhammad Nor menjelaskan bahwa teknik tersebut dilakukan dengan sayatan yang lebih kecil. Pada prosedur tertentu, dokter juga tidak perlu membelah tulang dada seperti dalam operasi jantung konvensional.
“Karena sayatannya lebih kecil dan tidak memerlukan pemotongan tulang dada pada prosedur tertentu, proses penyembuhan luka bisa lebih cepat. Perawatan luka juga menjadi lebih sederhana,” ujarnya dalam konferensi pers di Vasa Hotel Surabaya, Sabtu (24/10).
Berbeda dengan metode konvensional yang mengharuskan pembelahan tulang dada (sternotomy), teknik minimal invasif di CVSKL ini memungkinkan pemulihan pasien berjalan jauh lebih cepat.
Mengubah Paradigma Bedah Jantung Tradisional
Pada operasi bypass jantung tradisional (Coronary Artery Bypass Graft), dokter harus membuat sayatan besar di tengah dada dan membuka tulang dada untuk mencapai jantung. Proses penyembuhan tulang inilah yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan.
“Di CVSKL, tim bedah toraks dan kardiovaskular memanfaatkan teknik MIHS CABG. Dokter bedah menjangkau jantung hanya melalui sayatan kecil di antara tulang rusuk dengan bantuan kamera miniatur khusus dan instrumen bedah berukuran kecil. Tidak hanya sayatan di dada yang diperkecil, pengambilan pembuluh darah sehat (yang biasanya diambil dari kaki atau lengan untuk dijadikan jalur bypass) juga bisa dilakukan melalui teknik endoskopik (Endoscopic Vein Harvesting) yang hanya menyisakan luka kecil, ” jelasnya.
Teknik bedah jantung minim sayatan menurut Dato’ dr. Mohamad Arif Muhammad Nor, dapat dipertimbangkan untuk menangani sejumlah kondisi, antara lain gangguan katup jantung yang memerlukan perbaikan atau penggantian katup, serta kasus tertentu yang berkaitan dengan penyumbatan jantung.
Meski demikian, metode tersebut tidak dapat diterapkan kepada semua pasien. Pemilihan teknik operasi harus mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien, tingkat kompleksitas penyakit, serta risiko yang mungkin timbul selama tindakan.
Pada pasien dengan kondisi jantung yang kompleks atau membutuhkan penanganan darurat, dokter perlu melakukan pemeriksaan dan pertimbangan lebih lanjut untuk menentukan metode yang paling tepat.
“Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, perlu dilakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah operasi dengan sayatan minimal memungkinkan dilakukan atau pasien membutuhkan pendekatan lain,” jelasnya.
Keunggulan Utama Prosedur Minim Sayatan
Berdasarkan data medis dari Pusat Keunggulan CVSKL, metode minimal invasif ini menawarkan sejumlah keuntungan signifikan bagi pasien dibandingkan bedah konvensional.
Rasa Nyeri Lebih Ringan: Karena tidak ada pemotongan atau pembelahan pada tulang dada, trauma jaringan menjadi jauh lebih minimal.
Pemulihan Jauh Lebih Cepat: Pasien rata-rata dapat kembali beraktivitas ringan atau bekerja dalam waktu 3 hingga 4 minggu saja pascaoperasi, berbanding terbalik dengan metode konvensional yang membutuhkan waktu 2 hingga 3 bulan.
Risiko Infeksi Rendah: Sayatan yang kecil secara otomatis mengurangi risiko komplikasi pada luka operasi dan menekan kebutuhan transfusi darah.
Hasil Estetika Lebih Baik: Bekas luka yang ditinggalkan jauh lebih kecil dan samar.
Dato’ dr. Mohamad Arif Muhammad Nor mengingatkan bahwa meskipun sayatannya kecil, MIHS CABG tetap merupakan kategori operasi jantung besar. Perbedaan utamanya terletak pada cara akses ahli bedah menuju jantung, bukan pada tingkat keseriusan operasinya.
“Satu lagi, tidak semua pasien dengan penyumbatan arteri koroner otomatis menjadi kandidat yang cocok untuk prosedur ini. Kelayakan medis seorang pasien sangat bergantung pada pola, jumlah, dan tingkat keparahan penyumbatan pembuluh darah, serta fungsi jantung secara keseluruhan, ” paparnya seraya menambahkan,
pasien yang memiliki penyakit multi-vessel kompleks atau kondisi anatomi tertentu terkadang tetap lebih aman ditangani dengan metode konvensional. (nov)
