KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Masjid Al Musafirin di Rest Area KM 753B Tol Surabaya-Gempol resmi beroperasi pada Minggu (18/10/2026). Masjid ini mampu menampung hingga 450 jemaah, meningkat dari kapasitas sebelumnya yang sekitar 280 orang.
Peresmian dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, bersama Komisaris Utama PT Margabhakti Sari Sejahtera (MbSS), Mohamad Faried.
Dalam sambutannya, Prof M Nuh yang juga Dewan Pembina Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) menekankan bahwa pembangunan masjid bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik, melainkan juga menjadi sarana membantu sesama dan menanam amal jariyah.
Ia mengingatkan bahwa pertolongan kepada orang lain merupakan salah satu jalan untuk memperoleh pertolongan Allah SWT.
“Allah pasti menolong hamba yang menolong orang lain. Menolong itu ada yang direct, ada yang indirect,” ujar Menteri Pendidikan Nasional periode 2009–2014 tersebut.
Prof Nuh juga mengapresiasi kiprah YDSF dalam mengelola dana umat. Ia berharap lembaga tersebut terus menghadirkan program yang memberikan dampak nyata dan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan YDSF terus berkembang dengan program-program yang dampak dan nilai manfaatnya paling tinggi,” katanya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam pembangunan masjid tersebut. “Selamat berjuang, selamat bahagia mendapat jariyah dari tempat ini,” imbuhnya.
Salah satu pendiri YDSF, Ustaz Abdulkadir Baraja, turut mengingatkan pesan almarhum Prof Mahmud Zaki, Ketua Pembina YDSF, mengenai pentingnya pengelolaan dana umat secara amanah dan profesional.
Pesan itu, menurut Abdulkadir, juga relevan dalam pengelolaan Masjid Al Musafirin agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Semoga masjid ini akan diurus dengan manajemen yang bagus,” ujarnya.
Dengan demikian, keberadaan masjid di rest area tidak hanya ditunjang bangunan yang memadai, tetapi juga membutuhkan pengelolaan yang baik agar pelayanan kepada jemaah tetap optimal.
Arsitek Masjid Al Musafirin, Andy Rahman, menjelaskan bahwa desain bangunan dirancang dengan mempertimbangkan kondisi lahan serta lingkungan fisik, sosial, dan budaya setempat.
Optimalisasi ruang menjadi salah satu fokus perancangan. Hasilnya, kapasitas masjid meningkat dari sekitar 280 menjadi 450 jemaah, bahkan berpotensi menampung lebih banyak orang.
Desain tersebut juga mengutamakan pencahayaan alami dan sirkulasi udara agar ruang masjid tetap terang pada siang hari dan memiliki aliran udara sepanjang hari.
“Konsep ini membuat masjid ini lebih hemat energi dan sehat,” kata Andy.
Dari sisi bentuk, masjid mengadaptasi karakter arsitektur masjid awal di Nusantara melalui penggunaan atap tajuk yang disederhanakan, tetapi tetap tampil monumental.
Warna terakota dipilih untuk memperkuat karakter lokal Jawa Timur. Warna tersebut mengingatkan pada candi-candi berbahan bata yang menjadi bagian dari warisan arsitektur kawasan ini.
Pembangunan Masjid Al Musafirin dimulai pada September 2025. Dengan beroperasinya masjid tersebut, YDSF berharap fasilitas ibadah ini dapat memberikan manfaat bagi pengguna Tol Surabaya-Gempol maupun masyarakat sekitar. (TAM)
