Gagal Bertani, Dwi Januartanto Menemukan Ladang di Seni

oleh -309 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Gagal menekuni dunia pertanian justru mengantarkan Dwi Januartanto menemukan bahasa artistiknya. Seniman asal Lamongan ini mengolah terpal, kain, dan tali rafia menjadi karya seni yang berbicara tentang kehidupan petani, tekanan sosial-ekonomi, hingga relasi kekuasaan.

Eksplorasi tersebut terlihat dalam dua karyanya, VUCA 1 dan VUCA 2, berukuran masing-masing 150 x 200 sentimeter, yang dipamerkan di ARTSUBS 2026. Alih-alih menggunakan kanvas dan cat, Dwi memilih material yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat agraris.

Pengalaman itu ia ceritakan dalam forum Wicara Seniman bertajuk “Seniman, Kota, dan Medan Seni” di Selasar Balai Budaya, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Diskusi yang dipandu Nirwan Dewanto tersebut juga menghadirkan Garis Edelweis dan Ufa Faizah.

Lahir di Lamongan dan lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dwi tumbuh dalam keluarga petani yang menanam melon dan bawang merah. Ketika mencoba terjun langsung ke pertanian, ia menyadari keterbatasan pengetahuan teknis dan ketelatenannya. Pengalaman itu kemudian dialihkan menjadi proses kreatif.

Terpal dan tali rafia bukan sekadar pilihan estetika. Material tersebut menyimpan jejak kehidupan agraris, aktivitas panen, serta persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Melalui pendekatan konseptual, Dwi menghubungkan pengalaman lokal dengan isu sejarah, kolonialisme, dan perubahan global.

Dalam karya VUCA, yang merujuk pada volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity, Dwi menyoroti dunia yang penuh perubahan dan ketidakpastian. Kain bercorak militer dan terpal digunakan untuk membangun pembacaan tentang kekuasaan, tekanan, serta ruang hidup kelompok marginal, termasuk petani.

Kecenderungan tersebut juga terlihat dalam karyanya MAKAN MAKNA, yang mendapat perhatian dalam kompetisi UOB 2019. Karya itu menghubungkan persoalan pertanian dengan bahasa, sejarah, dan kolonialisme.

Pemandu diskusi, Nirwan Dewanto, menyoroti kemampuan Dwi membawa pengalaman lokal ke persoalan yang lebih luas. Menurutnya, seniman tidak hanya membutuhkan sudut pandang unik, tetapi juga keterampilan menerjemahkan gagasan menjadi karya serta kemampuan membaca ekosistem seni.

Baca Juga :  "Djoerig Salawe' Kisah Penggila Judi Togel Berteman dengan Setan

Dwi sendiri menempuh strategi pragmatis dengan mengikuti kompetisi, open call, dan membaca perkembangan dunia seni untuk memperluas peluang berkarya.
Melalui material sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Dwi menunjukkan bahwa pengalaman agraris dapat menjadi sumber gagasan seni yang kritis. Ia mungkin gagal menjadi petani, tetapi menemukan ladang kreatifnya sendiri melalui seni.(tok)