Mengapa Sejarah Kita Ditulis Orang Asing?

oleh -10 Dilihat
Oleh
Titik
Reporter
John Roosa - Agung Ayu Ratih sedang membedah isi buku keduanya yang berisi tentang sejarah Gerakan 30 September 1965. (Foto: Titik/kilasjatim.com)

KILASJATIM.COM, Malang – Menjadi pertanyaan besar, mengapa buku sejarah, utamanya peristiwa 1965 yang menjadi tonggak baru sejarah Indonesia, setelah kemerdekaan, sebagian besar diteliti dan ditulis oleh orang asing. Sedang kita tinggal membaca ulang dari yang mereka susun ulang.

Satu petang, di sore yang hangat. Pada halaman rumah telah ditata kursi dan meja. Bersama komunitas Women Ngalam Bergerak, lingkar diskusi perempuan dan buku, di Malang. Berkesempatan melakukan diskusi bersama sepasang peneliti sejarah yang lama tinggal di luar negeri.

Dalam diskusi kecil itu, kami berbincang tentang banyak hal, dari gerakan perempuan, peristiwa 65 yang dipicu pembunuhan jendral di Lubang Buaya.

Pasangan peneliti, sejarawan dan pekerja kemanusiaan, John Roosa – Agung Ayu Ratih, keduanya telah mendokumentasikan sekitar 400 rekaman wawancara pada penyintas korban 65. Dokumentasi dilakukan dengan merekam hasil wawancara pada pita kaset, sebagian belum ditulis ulang.

John Roosa, yang dikenal dengan buku “Dalih Pembunuhan Masal, Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto” dan “Riwayat Terkubur, Kekerasan Anti Komunis 1965-1966 di Indonesia” dan masih bnyak lagi. Mengaku tertarik pada sejarah Indonesia, tidak lain karena rasa kemanusiaan. Ia tak bisa membayangkan ribuan orang ditahan, dibunuh tanpa alasan yang jelas.

“Tidak ada alasan tendensius. Semuanya karena panggilan kemanusiaan. Peristiwanya ada, korban nya juga ada. Dan, saya berusaha mendokumentasikan, bahwa pernah terjadi peristiwa besar di sini ( Indonesia),” katanya saat ditemui dirumahnya,  Selasa (13/10/2026).

Dalam mendokumentasikan hasil wawancara, ia mengalami kendala. Sejumlah rekaman yang dibuat hilang, dan pita kaset rekamannya banyak yang rusak karena terendam banjir di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain keterbatasan tenaga, belum semuanya bisa ditulis ulang. Bahkan ada beberapa kaset yang hilang ditangan volunteer yang katanya bersedia membantu, tetapi menghilang begitua saja dan tidak dapat dihubungi lagi.

Baca Juga :  Gresik United Takluk 0-1 dari Persekabpas, Peluang Lolos Kian Menipis

Ditanya mengenai, mengapa orang asing lebih tertarik menulis dan meneliti sejarah Indonesia, tidak lain karena kebiasaan orang Indonesia yang tidak menulis. Mestinya untuk mengingat sesuatu setiap orang harus mempunyai catatan dan membaca kembali. Kebiasaan tersebut yang tidak dimiliki dan kurang diajarkan di sekolah.

“Sejarah itu dibangun dari imajinasi. Harus dibayangkan dulu. Lantas dicari datanya, dibaca ulang, dipelajari. Jadi, itulah masalahnya kurang berimajinasi. Semua peristiwa dianggap biasa saja,” terangnya.

Hal senada disampaikan Katharine McGregor, professor Sejarah Asia Tenggara di School of Historical and Philosophical Studies di Universitas Melbourne, Australia, ketika dijumpai dalam bedah buku Memori-Memori Kekerasan, di Kampus Universitas Negeri Malang, menyampaikan, mengapa orang Indonesia tidak banyak yang menulis sejarahnya, terutama berkaitan dengan peristiwa 65. Karena dianggap terlalu dekat dan itu kurang mendapat perhatian, meski sudah ada beberapa penulis Indonesia yang menulis meneliti soal 65.

“Mungkin jaraknya terlalu dekat, jadi kurang bisa melihat dengan baik. Seperti kita membaca terlalu dekat, hurufnya jadi blur. Mungkin semacam itu, tapi saya yakin akan ada yang menulis sejarah negerinya sendiri. Terutama anak muda, sekarang sudah mulai bermunculan,” katanya.

Pegiat literasi sekaligus pemilik perpustakaan Bintang Kecil, Hariyono biasa disapa Cak Pendek, mengakui minimnya penulisan sejarah oleh peneliti dalam negeri, dipengaruhi oleh budaya tutur dan faktor buta huruf yang dimulai sejak penjajahan kolonial.

“Karena di sampaikan lewat tutur, sejarah yang diwariskan kurang lengkap. Bisa dikurangi atau ditambahi. Sesuai yang menyampaikan. Dan kelemahan kita di pengarsipan,” ungkapnya. (TQI)