KILASJATIM. COM, Solo – Bank Indonesia (BI) menyiapkan enam inisiatif strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah (Eksyar) yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Yono Haryono mengatakan, penguatan Eksyar menjadi penting karena Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report, Indonesia saat ini berada di peringkat keempat dalam pengembangan ekonomi syariah global, setelah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
“Indonesia memiliki modal yang kuat dalam pengembangan ekonomi syariah. Namun, masih ada sejumlah sektor yang perlu diperkuat agar daya saing kita semakin tinggi dan kontribusinya terhadap ekonomi syariah global semakin besar,” kata Yono saat menjadi pembicara dalam kegiatan Capacity Building dengan tema “Pengembangan Esyar”, di Solo, Senin (5/10/2026).
Menjawab tantangan tersebut, BI mengembangkan enam inisiatif yang selaras dengan agenda pengembangan ekonomi syariah nasional dan mendukung RPJMN 2025–2029. Inisiatif pertama adalah “Gerbang Santri” atau Gerakan Pengembangan Pesantren dan Rantai Nilai Halal.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat produktivitas usaha pesantren, digitalisasi kerja sama bisnis antarpesantren, serta kelembagaan dan tata kelola keuangan pesantren. Salah satu pengembangan yang dilakukan saat ini adalah industri air minum pesantren dan greenhouse berbasis Internet of Things (IoT).
“Pengembangan greenhouse tidak hanya diarahkan pada produksi, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat kemandirian ekonomi pesantren,” ujarnya.
Penerapan greenhouse berbasis digitalisasi bahkan telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu di sejumlah pondok pesantren di wilayah Surakarta. Digitalisasi di lingkungan pesantren diharapkan dapat memperkuat kapasitas usaha sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Inisiatif kedua adalah “Jawara Ekspor” atau Jaringan Wirausaha Syariah Mendorong Ekspor. Program ini mencakup integrasi sistem informasi pendukung ekspor produk halal, pengembangan pasar, penguatan produk, serta peningkatan kapasitas pelaku ekspor.
Sejumlah pelaku usaha dari kalangan pesantren maupun nonpesantren yang memiliki kapasitas untuk memasuki pasar internasional akan difasilitasi agar mampu meningkatkan skala usaha dan memperluas pasar.
Inisiatif ketiga adalah Penguatan ekosistem halal. Agenda ini semakin penting seiring penerapan kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026. Penguatan ekosistem halal membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, pesantren, dan masyarakat.
“Pengembangan ekosistem halal tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Diperlukan sinergi berbagai pemangku kepentingan agar semakin banyak pelaku usaha dan produk yang masuk dalam rantai nilai halal,” jelas Yono.
Selanjutnya, BI memperkuat pembiayaan melalui “Sapa Syariah” atau Sinergi Perdagangan dan Pembiayaan Syariah. Skema ini diarahkan untuk memperkuat hubungan antara aktivitas perdagangan dan pembiayaan syariah sehingga pelaku usaha memiliki akses pendanaan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar.
Inisiatif kelima adalah Kanal “Ziswaf” atau Kolaborasi Nasional Pengembangan Ziswaf. Program ini diarahkan untuk memperkuat peran zakat, infak, sedekah, dan wakaf dalam mendukung pemberdayaan ekonomi dan perlindungan sosial.
Salah satu perhatian utama adalah optimalisasi wakaf produktif, termasuk wakaf uang. Berdasarkan perhitungan Badan Wakaf Indonesia (BWI), potensi wakaf uang mencapai sekitar Rp180 triliun per tahun. Namun, akumulasi wakaf uang yang telah terkumpul hingga saat ini masih sekitar Rp4 triliun.
“Besarnya selisih antara potensi dan realisasi wakaf uang menunjukkan ruang pengembangan yang masih sangat besar. Karena itu, tata kelola, inovasi, digitalisasi, dan pemahaman masyarakat perlu terus diperkuat,” kata Yono.
Inisiatif keenam “Lentera Emas” atau Literasi dan Inklusi Ekonomi dan Keuangan Syariah menuju Indonesia Emas. Program ini mencakup implementasi strategi nasional literasi dan inklusi Eksyar, survei literasi dan inklusi, penguatan komunikasi dan edukasi, digitalisasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia edukator ekonomi syariah.
“Enam inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah secara menyeluruh, mulai dari pengembangan usaha pesantren, ekspor produk halal, ekosistem halal, pembiayaan, Ziswaf, hingga literasi dan inklusi,” paparnya.
Menurut Yono, literasi menjadi fondasi penting karena masyarakat perlu memahami konsep, instrumen, produk, dan peluang ekonomi syariah. Pemahaman yang lebih baik akan membuka ruang partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam ekosistem Eksyar. (nov)
