BGN Uji Coba MBG Prasmanan di 60 Dapur, Siswa Ikut Melayani

oleh -63 Dilihat
Oleh
Redaksi
Reporter
Ilustrasi (Foto: Ist)

KILASJATIM>COM, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji skema baru pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan. Uji coba dilakukan di lebih dari 60 dapur SPPG di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, hingga Jayapura.

Dalam skema ini, makanan dari dapur SPPG dibawa ke sekolah dalam kondisi hangat, kemudian disajikan langsung di kelas. BGN menilai cara tersebut dapat membuat makanan lebih segar sekaligus mengurangi risiko makanan rusak akibat terlalu lama dalam perjalanan atau menunggu sebelum disantap.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan uji coba dimulai Senin (5/10) kemarin.

“Mulai tanggal 5 ini kita sudah piloting di lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas,” kata Sudaryono dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, makanan yang disajikan dalam kondisi hangat diharapkan lebih enak dan fresh. Waktu tunggu yang lebih singkat juga dinilai dapat mengurangi risiko kerusakan makanan yang berpotensi mengganggu kesehatan.

Skema prasmanan MBG tidak hanya mengubah cara makanan disajikan. BGN juga ingin menjadikannya bagian dari edukasi siswa.

Siswa akan dibagi dalam kelompok piket berisi sekitar 5-6 orang. Mereka bertugas membantu menyajikan makanan kepada teman-temannya.

“Yang dilatih adalah dapurnya, yang dilatih juga adalah sekolahnya. Karena yang melayani adalah siswa,” ujar Sudaryono.

Konsep tersebut, kata dia, terinspirasi dari kebiasaan di sekolah Jepang. Siswa nantinya berpotensi menggunakan celemek dan sarung tangan saat melayani makanan.

Sudaryono menegaskan skema prasmanan tidak berarti makanan dimasak sembarangan di sekolah. Makanan tetap dapat diproduksi di SPPG atau dapur terpusat, kemudian dikirim ke sekolah untuk disajikan dalam kondisi hangat.

Untuk sekolah atau pesantren dengan jumlah siswa sangat besar, dapur juga memungkinkan dibangun di dalam lingkungan sekolah atau pesantren.

Baca Juga :  Kemenhaj Sumenep Tetapkan 600 CJH Cadangan, Total Jemaah Haji 2026 Capai 1.662 Orang

Menurut Sudaryono, konsep tersebut mirip sistem central kitchen yang diterapkan di sejumlah negara, termasuk Jepang. Makanan dimasak di dapur terpusat lalu didistribusikan ke sekolah dan disajikan dalam kondisi hangat.

Hasil awal uji coba disebut menunjukkan respons positif. Sudaryono mengatakan makanan yang disediakan lebih banyak habis dan sisa makanan atau food waste cenderung lebih sedikit.

“Lebih fresh, kemudian kalau ada yang mau nambah masih ada sisa. Waste-nya lebih sedikit karena prasmanan,” katanya.

Meski demikian, BGN belum memastikan skema prasmanan akan menggantikan pola pembagian MBG yang berjalan saat ini.

Sudaryono hanya berharap uji coba tersebut dapat diperluas jika hasil evaluasinya menunjukkan manfaat bagi kualitas makanan, kesehatan, dan edukasi siswa. (cit)