KILASJATIM.COM, Malang– Enam dekade yang lalu. Peristiwa kekerasan seksual pada perempuan terjadi, lukanya masih terasa sampai hari ini. Yang beruntung bisa menuliskan kenangan dalam memoar untuk dirinya dan membersihkan nama keluarga. Yang lain, telah berpulang sebelum tahu apa alasan dipenjara, sedang masyarakat terlanjur melebeli sebagai Gerwani. Bagian dari organisasi terlarang PKI yang digambarkan menari-nari diatas lubang buaya dalam film G30S PKI.
Stigma itu yang tertanam dalam ingatan sebagian orang tua kita. Dibalik semua itu ada perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan fisik, seksual maupun psikologis. Menolak lupa sejumlah buku menyimpannya dalam lembar cerita.
Berikut buku-buku yang wajib diketahui, buku Dari Kamp ke Kamp (buku kedua) dari empat memoar yang ditulis mantan Tapol, Mia Bustam yang juga aktivis Lekra.
Mengisahkan sejumlah kekerasan yang dialami selama berada ditahanan. Seperti seorang Perempuan muda yang menjadi korban kekerasan seksual oleh sipir penjara. Membuatnya trauma dan harus menggugurkan kandungan beberapa kali.
Bahkan ada yang melahirkan dalam penjara akibat kekerasan tersebut, sedang pelakunya bebas tanpa menanggung dosa dan beban lain. Seolah perempuan yang menjadi tahanan boleh diperlalukan semaunya. Tanpa bisa membela hak dan harga dirinya. Melalui buku kita dapat membaca kekerasan macam apa yang dialami perempuan tersebut. Sedang perkara ditahan pun perempuan itu tidak tahu.
Kisah kekerasan pada Perempuan juga dicatat oleh Vincent Bevins dalam buku Metode Jakarta. Ketika ia harus mewawancarai korban 65, umumnya penyintas itu menyampaikan selama ditahan, dibiarkan kelaparan, dipukuli, dipanggil tukang sihir, setan dan diputus komunikasi keluarganya. Mirisnya diperkosa ramai-ramai oleh beberapa orang dalam satu waktu, lantas dilempar ke sudut sel seolah perempuan itu buka apa-apa. Meski ia tidak ingin menanyakan hal tersebut, sesuatu yang menurutnya tidak sanggup didengar. Namun, para penyintas itu menceritakan semua hal yang pernah dialami.
Sementara peristiwa 1965 bentang jaraknya makin jauh dengan generasi sekarang. Tetapi cerita itu tidak terkubur. Lewat teknologi, Gen Z menggali dan merajutnya. Benang penghubungnya adalah buku sastra.
Novel Namaku Alam, karya Leila S. Chudori yang terbit pertama pada 2023, tiga tahun lalu, menjadi bahasan menarik di lingkaran diskusi. Mereka mempertanyakan peristiwa apa yang terjadi pada 1965. Momen yang membuat sejarah baru negeri ini, setelah kemerdekaan Indonesia.
Namaku Alam, cerita dengan tokoh utamanya Segara Alam, seorang anak yang mempunyai kemampuan photographic memory, kemampuan mengingat detail visual secara tajam semua peristiwa yang pernah dialami. Ia anak dari Hananto Prawiro seorang wartawan yang dieksekusi mati pada 1970 dan dicap sebagai anggota PKI.
Akibatnya anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengalami perundungan, baik dalam anggota keluarga besar ibunya maupun di sekolah. Sekalipun ia anak yang cerdas dan mendapat rangking satu di sekolah.
Dari buku-buku inilah, peristiwa 1965 kebali digali oleh generasi masa kini. Dari sebuah novel, dengan gaya bahasa ringan, mengalir, peristiwa sejarah menjadi bacaan menarik. Bukan seperti buku Pelajaran di sekolah yang kaku, menuntut semua tanggal dan lokasi kejadian harus dinggat. Dalam novel pemilihan diksi dan alur ceritanya mudah dipahami, membuat pembaca terikat untuk menyelesaikan sampai akhir, sekalipun skuel kedua buku tersebut sedang dalam proses penggarapan oleh penulis.
Dan, jangan lupa dalam novel tersebut, ibu Alam turut menjadi korban kekerasan seksual selama tinggal di penjara. Peristiwa itu terjadi ketika penjaga sel memanggilnya untuk diperiksa. Jika menolak, laki-laki berbadan kekar itu mengancam, akan memanggil Kenangga kakak pertama Alam sebagai pengganti ibunya. Perlu diketahui tanpa alasan jelas, setelah ayahnya dihabisi, petugas menahan Alam sekeuarga. Ibu, Kenanga dan Bulan (dua kakak Alam). untuk melindungi Kenanga, martabat perempuan harus terkoyak.
“Saya kita novel Namaku Alam yang mengenalkan kembali sejarah enam lima pada Gen Z. Dan hampir semua kawan-kawan di sini sudah membaca. Menarik bukunya, coba cari di toko buku atau pesan on line pasti ada,” kata Mamul, dari komunitas Alternatif saat dijumpai di Gazebo UB, beberapa waktu lalu.
Dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan karya Saskia E. Wieringa, serta buku Propaganda dan Genosida di Indonesia Sejarah Rekayasa Hantu 1965 oleh penulis yang sama dan Nursyahbani Katjasungkana menyampaikan Gerakan Perempuan pasca kejadian 1965 mengalami kemunduran. Bahwa Gerwani adalah organisasi untuk memajukan perempuan dari proses kesadaran berorganisasi, membela haknya seperti menolak poligami seperti yang dilakukan Sukarno dan masih banyak lagi.
“Perempuan yang digambarkan nari-nari di lubang buaya itu tidak benar. Sesungguhnya mereka itu diminta membantu memasak. Katanya akan ada acara besar, jadi harus perempuan muda, mereka tidak tahu kalau ada pembunuhan jendral. Itu hasil wawancara saya dengan penyintas. Jadi kasihan sekali mereka,” katanya beberapa waktu lalu, saat berkunjung dirumahnya Lawang.
Sebagai sejarawan dan peneliti di University of Amsterdam, Balanda dan Ketua Yayasan International People Tribunal 1965, ia menyampaikan sampai hari ini tetap berupaya mencari keadilan untuk korban 65. Meski Sebagian besar diantara telah meninggal. (TQI)
