Kepedulian Industri Terhadap Lingkungan Masih Rendah, Media Diharapkan Kawal Penerapan Industri Hijau

oleh -36 Dilihat
Admin & Relations Manager Cargill Indonesia, Adi Suprayitno (berdiri) saat memaparkan Cargill secara global memfokuskan program keberlanjutannya yang fokus Cargill dalam green industry yaitu penanggulangan iklim, restorasi air dan people,” dan hadir sebagai  nara sumber lainnya Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Jauzi (busana batik) dan PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim (kanan) dan paling kiro, Abdul Malik sebagia. Moderator di acara Media Gathering Cargill Gresik Plant, Pasuruan, Rabu (23/9/2016) (kilasjatim.com/Nova) 

KILASJATIM. COM, Pasuruan  – Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim  mengemukakan penerapan industri hijau di Indonesia masih rendah. Kepedulian industri terhadap lingkungan diperkuat lagi. Dari sekitar 29.000–30.000 industri yang ada, jumlah perusahaan yang telah mendapatkan penetapan sebagai industri hijau masih kurang dari 100 perusahaan.

“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan prinsip industri hijau masih menghadapi tantangan besar. Di berbagai negara juga terus berkembang. Namun, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan jumlah industri yang benar-benar menerapkan prinsip tersebut secara terukur dan berkelanjutan, ” ujar Lutfil Hakim  saat Media Gathering Cargill Gresik Plant, Pasuruan, Rabu (23/9/2016)

Masih menurut Ltfil Hakim, isu industri hijau sebenarnya bukan hal baru. Komitmen terhadap lingkungan telah menjadi agenda global dan terus dibahas dalam berbagai forum internasional.

“Green industry sudah lama dibahas. PBB juga sudah membentuk UNFCCC. Banyak yang sudah dilakukan, dan negara-negara terus mendorong bagaimana industrinya merujuk pada green industry,” imbuhnya.

Ia menilai salah satu tantangannya adalah proses untuk memperoleh sertifikasi atau penetapan industri hijau yang membutuhkan sejumlah tahapan. Karena itu, pemahaman pelaku industri maupun masyarakat mengenai indikator industri hijau perlu terus diperkuat.

Lutfil Hakjm yang akrab disapa Pak Item ini berharap kepada pers untuk ikut ambil bagian karena insan jurnalis dinilai memiliki peran penting untuk mendorong dunia usaha meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya industri berkelanjutan.

Di tengah upaya industri dan pemerintah tersebut, Lutfil menilai media massa perlu mengambil peran lebih besar. Pers tidak hanya menjalankan fungsi publikasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab edukasi dan kontrol sosial.

Selain mengedukasi publik, pers juga mengedukasi lingkungan. Sehingga media harus paham betul tentang green industry. Jurnalis perlu memiliki pemahaman yang cukup untuk menjelaskan kepada masyarakat apakah sebuah industri benar-benar telah menjalankan prinsip ramah lingkungan, termasuk bagaimana perusahaan mengelola limbah dan menggunakan sumber daya secara efisien.

Baca Juga :  SBI Bawa Empat Pabrik Semen Raih Penghargaan Industri Hijau

“Yang lebih penting  ke depannya adalah pelatihan tentang green industry. Kita harus punya kemampuan untuk memahami apakah proses industri itu sudah betul-betul peduli lingkungan, bagaimana limbahnya dan apakah bisa didaur ulang,” katanya seraya menambahkan, fungsi kontrol pers menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi media sosial. Menurutnya, media harus mampu memberikan nilai lebih melalui informasi yang terverifikasi, edukatif, dan mendalam.

“Kalau pers tidak melakukan hal yang memiliki nilai lebih, maka tidak perlu ada media. Jadi pers harus paham betul, karena di UU Pers diamanatkan,” tandas Lutfil.

Sementara itu, Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Jauzi, mengatakan Pemerintah Kabupaten Gresik menilai pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan.

” Gresik memiliki aktivitas industri yang cukup besar seiring tingginya investasi di wilayah tersebut. Ekonomi dan ekologi itu dua mata uang. Idealnya keduanya berjalan bersama, tetapi sering ada yang dikalahkan,” ujar Jauzi.

Pada 2025 terdapat sekitar 685 industri manufaktur menengah dan besar di Gresik. Keberadaan industri memberikan kontribusi terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja, namun pada saat yang sama juga membawa tantangan terhadap lingkungan.

Sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian antara lain penggunaan air, perubahan fungsi lahan, emisi udara serta pengelolaan limbah. Perubahan lahan dari tambak atau sawah menjadi kawasan industri, misalnya, dapat berdampak terhadap ketersediaan air dan kondisi lingkungan.

“Ini tantangan. Dengan adanya industri, ada sumbangan polutan di media udara. Kemudian juga limbah, baik air maupun padat. Penerapan industri hijau tidak hanya dilihat dari keberadaan program lingkungan, tetapi juga dari bagaimana industri menggunakan sumber daya secara efisien, mengendalikan emisi dan limbah, serta mengurangi dampak kegiatan produksi terhadap masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga :  Hotel dan Media Berkolaborasi Tingkatkan Geliat Pariwisata di Indonesia

Salah satu perusahaan yang sudah mempraktikkan dengan penggunaan sumber daya alam secara efisien adalah Cargill di Gresik.

Di Gresik, Cargill  sudah menjalankan program konservasi mangrove dengan menanam sekitar 33.000 bibit. Sementara di Pasuruan, program penanaman dan konservasi telah dilakukan melalui berbagai kegiatan lingkungan.

Dikatakan Admin & Relations Manager Cargill Indonesia, Adi Suprayitno, Cargill secara global memfokuskan program keberlanjutannya pada tiga pilar, yakni iklim, air dan masyarakat. “Fokus Cargill dalam green industry yaitu penanggulangan iklim, restorasi air dan people,” jelasnya.

Dalam laporan keberlanjutan global 2025, Cargill mencatat investasi sekitar US$690 juta untuk efisiensi energi di berbagai proyek, restorasi 91 juta liter air di wilayah yang mengalami kesulitan air, serta pelatihan dan edukasi pertanian berkelanjutan kepada 7,7 juta petani.

Cargill juga melaporkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 20,9% untuk emisi cakupan 1 dan 2 secara global. Perusahaan menargetkan penurunan emisi yang lebih besar hingga 2030 dan terus melanjutkan berbagai program keberlanjutan di negara tempat perusahaan beroperasi.

“Seluruh inisiatif perusahaan, termasuk di Gresik dan Pasuruan, diarahkan agar tetap terkait dengan tiga pilar tersebut. Perusahaan juga secara konsisten melaporkan pengelolaan lingkungan kepada pemerintah daerah, ” pungkas Adi.  (nov)