KILASJATIM.COM, Bondowoso – Upaya menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Bondowoso terus diperkuat. Salah satunya melalui pendampingan langsung dokter spesialis ke puskesmas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA).
Program tersebut digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso sebagai respons terhadap rekomendasi Audit Maternal Perinatal Surveillance and Response (AMPSR). Pendampingan melibatkan tim ahli yang terdiri dari dokter spesialis anak (SpA) dan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG).
Pendampingan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan KIA. Tim ahli juga memberikan penguatan terkait penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal serta sistem rujukan yang menjadi bagian penting dalam penyelamatan ibu dan bayi.
Salah satu lokasi pelaksanaan kegiatan adalah UPTD Puskesmas Tenggarang. Kegiatan dilaksanakan secara bergiliran di puskesmas sesuai jadwal yang telah ditentukan. Setiap pertemuan berlangsung di aula puskesmas mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Kepala UPTD Puskesmas Tenggarang, drg. Yudi Suindianto, M.M., mengatakan pendampingan tersebut menjadi momentum penting bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi berbagai kondisi maternal dan neonatal.
Menurut Yudi, kehadiran dokter spesialis memberikan kesempatan bagi tenaga kesehatan di tingkat puskesmas untuk berdiskusi langsung mengenai pelayanan maupun kondisi kegawatdaruratan yang ditemui di lapangan.
“Pendampingan ini sangat bermanfaat bagi kami. Tenaga kesehatan bisa berdiskusi langsung dengan dokter spesialis, baik terkait pelayanan KIA, penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal, maupun sistem rujukan,” ujarnya. Rabu 23/9/2026.
Ia menilai pelayanan ibu dan anak membutuhkan koordinasi yang kuat antartenaga kesehatan. Dokter, bidan dan perawat harus memiliki pemahaman yang sama dalam mengenali tanda bahaya serta menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan tenaga kesehatan sejak awal. Ketika ada kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, keputusan untuk melakukan rujukan juga harus cepat dan tepat,” katanya.
Karena itu, dalam kegiatan tersebut kepala puskesmas diminta menghadirkan dokter umum, bidan induk, bidan desa dan perawat UGD sebagai peserta aktif.
Keterlibatan lintas tenaga kesehatan tersebut dinilai penting agar materi dan pengalaman yang diperoleh dari tim ahli dapat langsung diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.
Yudi berharap pendampingan tidak berhenti pada kegiatan tatap muka, tetapi mampu memberikan dampak berkelanjutan terhadap mutu pelayanan di puskesmas.
“Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan dampak langsung terhadap peningkatan mutu pelayanan. Dengan kompetensi tenaga kesehatan yang semakin kuat dan koordinasi yang semakin baik, pelayanan kepada ibu dan bayi bisa dilakukan secara optimal,” pungkasnya.
Melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan, penanganan kegawatdaruratan serta sistem rujukan yang lebih baik, upaya percepatan penurunan AKI dan AKB di Bondowoso diharapkan semakin terarah dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi ibu dan bayi. (wan)
