KILASJATIM.COM, Bondowoso – Kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa mengesampingkan integritas, literasi, dan kualitas sumber daya manusia.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Agama Islam: Membentuk Generasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Unggul yang digelar di Hotel Grand Padis Bondowoso, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PDI Perjuangan Ina Ammania, Rektor UIN KHAS Jember Prof. Dr. H. Sairon, M.A., serta Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN KHAS Jember Prof. Dr. H. Abdul Muiz, S.Ag., M.Si.
Dalam forum tersebut, Ina Ammania menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan AI perlu dimanfaatkan secara bijak oleh mahasiswa. Teknologi dan internet, menurutnya, memang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, tetapi tidak boleh menghilangkan budaya literasi maupun integritas akademik.
Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang bermitra dengan berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Ina menilai penggunaan AI dan media digital harus tetap disertai pengawasan untuk mencegah munculnya praktik plagiarisme.
“Teknologi membantu mahasiswa mendapatkan informasi dengan cepat, tetapi tetap harus ada kontrol. Mahasiswa harus tetap membaca literatur dan referensi yang ada di perpustakaan agar ilmu yang diperoleh benar-benar dipahami dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
AI Jadi Alat Bantu, Bukan Pengganti Proses Belajar
Ina menekankan bahwa teknologi seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, bukan menggantikan proses belajar mahasiswa.
Karena itu, mahasiswa perlu menyeimbangkan penggunaan sumber digital dengan kebiasaan membaca buku dan berbagai referensi akademik. Kemampuan berpikir kritis tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di perguruan tinggi.
“Harus ada keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan membaca buku. Tugas mahasiswa adalah belajar, menggali ilmu, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menyalin informasi,” tegasnya.
Menurut Ina, dosen juga memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan teknologi. Para dosen dituntut memahami perkembangan digital agar mampu memberikan pendampingan sekaligus melakukan pengawasan terhadap penggunaan teknologi oleh mahasiswa.
“Dosen tidak boleh gagap teknologi. Mereka harus memahami sumber informasi yang digunakan mahasiswa sehingga bisa memastikan karya akademik yang dihasilkan tetap berkualitas dan orisinal,” katanya.
Selain pemanfaatan teknologi, Ina turut menyoroti tantangan dunia kerja yang akan dihadapi lulusan perguruan tinggi pada masa mendatang.
Menurutnya, kualitas dan kompetensi menjadi faktor penting agar lulusan PTKI mampu bersaing di berbagai sektor industri.
“Yang harus dikedepankan adalah prestasi dan kompetensi. Persaingan yang sehat akan melahirkan sumber daya manusia yang kuat dan siap menghadapi tantangan dunia kerja,” ujarnya.
PTKI Didorong Cetak SDM Unggul
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Sairon, M.A., turut menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut.
Kehadirannya menjadi bagian dari pembahasan mengenai penguatan PTKI dalam menghadapi perubahan zaman, terutama dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pendidikan tinggi.
Sementara itu, Dekan FTIK UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Abdul Muiz, S.Ag., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama FTIK dengan Kementerian Agama dan Komisi VIII DPR RI untuk memperkuat kualitas pendidikan PTKI.
Menurut Abdul Muiz, PTKI memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang nantinya diharapkan mampu menjadi pemimpin di berbagai bidang.
“Perguruan tinggi keislaman, baik negeri maupun swasta, diharapkan menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan. Karena itu mahasiswa harus dipersiapkan sejak sekarang untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Indonesia saat ini tengah menuju Indonesia Emas 2045 dengan tantangan persaingan sumber daya manusia yang semakin terbuka.
Mahasiswa, kata dia, harus memiliki kompetensi yang memadai agar mampu menghadapi persaingan dengan tenaga kerja dari berbagai negara.
“Ke depan kita akan menghadapi persaingan global. Bisa saja ada dokter dari luar negeri, guru dari luar negeri, maupun tenaga teknis dari luar negeri yang masuk. Jika SDM kita tidak dipersiapkan dengan baik, tentu akan menjadi tantangan yang sangat besar,” jelasnya.
Perkuat Jejaring Perguruan Tinggi di Tapal Kuda
Abdul Muiz menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan jejaring antara perguruan tinggi dengan para pemangku kebijakan.
Jejaring tersebut diharapkan dapat mendorong kampus-kampus di wilayah Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo hingga Probolinggo untuk saling berkolaborasi dan memperkuat kualitas pendidikan.
“Kami mempertemukan perguruan tinggi dengan pengambil kebijakan agar lahir jejaring yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas layanan kampus, kualitas SDM mahasiswa, hingga penguatan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan. Setiap daerah memiliki kelebihan dan tantangannya masing-masing, sehingga kolaborasi menjadi sangat penting,” pungkasnya.
Melalui forum tersebut, tantangan pendidikan tinggi di era digital dipandang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menguasai teknologi. Mahasiswa juga membutuhkan karakter, integritas, budaya literasi, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan berkolaborasi.
Dengan perpaduan kompetensi digital dan karakter tersebut, PTKI diharapkan mampu memperkuat perannya dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi persaingan global menuju Indonesia Emas 2045.(wan)
