KILASJATIM.COM, Bondowoso – Rencana reaktivasi jalur kereta api yang menghubungkan Bondowoso, Situbondo, hingga Jember mulai memasuki tahap pengkajian. Pemerintah Kabupaten Bondowoso bersama Kementerian Perhubungan dan sejumlah pihak terkait menggelar rapat koordinasi untuk memetakan langkah strategis sebagai dasar pengembangan kembali transportasi berbasis rel di kawasan Tapal Kuda.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menegaskan bahwa kehadiran kembali kereta api bukan sekadar menghidupkan jalur lama, tetapi menjadi kebutuhan masyarakat untuk memperkuat konektivitas antarwilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Reaktivasi jalur kereta api ini bukan hanya soal transportasi, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat, memperkuat konektivitas antar daerah, serta menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di kawasan Tapal Kuda,” ujar Bupati. Senin 21/9/2026.
Menurutnya, keberadaan transportasi kereta api akan mempermudah mobilitas masyarakat, memperlancar distribusi barang dan jasa, sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata yang menjadi salah satu potensi unggulan daerah. Program tersebut juga dinilai selaras dengan visi pembangunan Kabupaten Bondowoso Tahun 2025–2029, yakni mewujudkan Bondowoso yang tangguh, unggul, berdaya saing global, dan berbudaya dalam bingkai keimanan dan ketakwaan.
Bupati menambahkan, melalui rapat koordinasi dan survei lapangan yang akan dilakukan, pemerintah berharap memperoleh data yang akurat terkait kondisi jalur, aset, dan prasarana yang masih tersedia. Hasil kajian tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan langkah lanjutan dan memperkuat koordinasi lintas instansi.
“Pemerintah Kabupaten Bondowoso siap mendukung dan memfasilitasi seluruh tahapan yang diperlukan demi terwujudnya reaktivasi jalur kereta api ini,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Teknik Perkeretaapian, Denny Michels Adlan, menyampaikan bahwa pemerintah pusat memahami harapan masyarakat agar jalur kereta api yang pernah berjaya di masa lalu dapat kembali beroperasi. Namun, proses reaktivasi harus diawali dengan kajian yang menyeluruh agar sesuai dengan kebutuhan transportasi saat ini.
Menurut Denny, jalur yang dibangun sejak era kolonial Belanda perlu diteliti kembali kelayakannya, baik dari sisi teknis, keselamatan, sosial maupun ekonomi. Pasalnya, jalur tersebut pada masa lalu banyak digunakan untuk angkutan barang, sedangkan saat ini kebutuhan transportasi mencakup angkutan barang dan penumpang dengan standar keselamatan yang jauh lebih tinggi.
“Kita harus mengkaji apakah jalur peninggalan Belanda tersebut masih sesuai untuk direaktivasi. Kita bicara soal keselamatan, kenyamanan, kecepatan perjalanan kereta, kondisi jalur, hingga dampak sosial kepada masyarakat yang mungkin saat ini sudah menempati atau memanfaatkan kawasan di sepanjang trase jalur lama,” jelasnya.
Selain memeriksa kondisi fisik jalur dan aset yang masih tersisa, pemerintah juga akan mengkaji kondisi lahan, keberadaan bangunan di sepanjang jalur nonaktif, serta potensi dampak sosial yang mungkin muncul apabila reaktivasi dilakukan.
Tak kalah penting, aspek ekonomi juga menjadi perhatian utama karena investasi yang dibutuhkan untuk membangun kembali jalur kereta api memerlukan biaya yang besar. Karena itu, diperlukan data dan kajian yang benar-benar menggambarkan kebutuhan masyarakat serta potensi manfaat ekonomi yang akan dihasilkan.
“Ini adalah langkah awal untuk memetakan apa saja yang dibutuhkan. Kita akan melihat studi yang sudah ada, apakah masih relevan atau perlu diperbarui. Kemudian juga menentukan pembagian peran antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” katanya.
Denny menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap program perkeretaapian. Karena itu, berbagai aspek seperti sterilisasi jalur, pengamanan aset, hingga penanganan perlintasan sebidang harus direncanakan secara matang sejak tahap awal.
“Kalau berbicara perkeretaapian, keselamatan adalah yang paling utama selain pelayanan. Perlintasan sebidang, sterilisasi jalur, dan keamanan operasional harus menjadi perhatian serius agar nantinya kereta api dapat beroperasi dengan aman dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Dengan dimulainya tahap kajian dan survei ini, reaktivasi jalur kereta api Bondowoso–Situbondo–Jember diharapkan memiliki landasan yang kuat untuk direalisasikan. Program tersebut diyakini tidak hanya memperkuat konektivitas kawasan Tapal Kuda, tetapi juga membuka peluang investasi, meningkatkan aktivitas ekonomi, dan mendukung kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.(wan)
