100 Karya Lukis Perjalanan Batin Susilo Bambang Yudhoyono  Dipamerkan di Voza Tower Surabaya

oleh -28 Dilihat
Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) bersama Hermanto Tanoko (kiri) dan Suwarno Wisetrotomo (kanan) meresmikan pameran tunggal lukisan di Voza Tower Surabaya, Selasa (15/9/2026). (kilasjatim.com/nova)

KILASJATIM. COM, Surabaya – Pameran tunggal goreaan karya lukis dari Susilo Bambang  Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 Republik Indonesia di Vosa Tower Surabaya, Selasa (15/9/2026). Di pameran  kali ini setidaknya ada 100 mahakarya  dari aekian banyak kolekainya ynag tidka. Bksa dibawa semua.

“Ada lbih dari 100 karya lukis yg sudahsaya selesaikam dan tidak saya bawa semua, terutama yang saya buat saat di Amerika yang saat ini masih dalam perjalanan pengiriman, ”  ujar Susilo Bambang Yudhoyono kepada media di Surabaya.

Selain pameran larya lukis yang digelar selama 2 pekan, mulai 16 hingga 29 September 2026,  momentum pembukaan juga  ditandai dengan peluncuran buku monograf berjudul “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang  Yudhoyono”.

Karya yang lebih menyajikan potret perjalanan batin sang negarawan saat mengeksplorasi bahasa rupa pasca-berpulangnya sang istri tercinta, Almarhumah Hj. Kristiani Herrawati.

“Saya melukis bukan sekedar hobi setelah pjrna tugas, namun lebih dari itu, melukis adalha merjaut kenangan dna syaa mencoba berdamai setelah berpulangnya Bu Ani.  Karya lukisan saya ini sebetulnya  saya gunakan untuk banyak hal, bantuan sosial, membiayai klub bola voli LavAni, kemudian juga mendukung pemeliharaan museum dan galeri SBY Ani yang ada di Pacitan,” kata SBY.

Menariknya, sebagian karya yang dipajang dalam pameran ini berawal dari album kenangan fotografi karya Almarhumah Kristiani Herrawati. SBY melukis ulang sudut-sudut lanskap indah yang pernah ditangkap oleh kamera sang istri, mengalihkan jepretan lensa menjadi goresan kuas berkarakter.

Di balik puluhan lukisan yang dipamerkan, terdapat sejumlah karya yang memiliki nilai emosional bagi SBY. Beberapa di antaranya terinspirasi dari foto mendiang istrinya, Ani Yudhoyono. Lukisan-lukisan tersebut menjadi medium bagi SBY untuk mengekspresikan kesedihan, kehilangan, dan kerinduan setelah sang istri meninggal dunia.

Baca Juga :  Khofifah Bagikan BBM Gratis untuk 200 Ojol di Sidoarjo, Tekan Beban Operasional

“Ada beberapa lukisan yang saya lukis itu hasil fotografi mendiang istri tercinta, Ibu Ani Yudhoyono. Ada lukisan yang mengekspresikan kesedihan, kehilangan, dan kerinduan saya setelah Ibu Ani berpulang,” ungkapnya.

SBY juga menceritakan kebiasaannya melukis di luar studio. Sejumlah karya bahkan dibuat secara spontan ketika dirinya sedang melakukan perjalanan. Dia menjalani teknik melukis di luar ruang atau plein air painting, termasuk melukis langsung di lokasi objek yang menarik perhatiannya.

“Kalau saya melukis di luar, bukan di studio. Apakah di pinggir pantai, di kaki gunung, di tikungan jalan, itu mostly spontanitas saya. Ketika bepergian menggunakan bus dan menemukan lokasi yang menurut saya menarik untuk dilukis, saya  meminta kendaraan berhenti di sanalah saya meluapkan guratan keindahan alam di atas kanvas,” paparnya.

Itu sebabnya  SBY selalu membawa perlengkapan melukis ketika bepergian, bahkan apabila tidak menggunakan kendaraan khusus yang membawa peralatan lukis, dia tetap membawa koper kecil berisi cat, kuas, kanvas, dan perlengkapan lainnya.

“Ke mana pun saya berangkat, entah dalam negeri, luar negeri, selalu ada koper kecil untuk peralatan lukis. Ada jugabkarya yang syaa buat secara khusus atau sudah direncanakan sebelumnya, seperti lukisan Gunung Merapi dari Boyolali, Puncak Pas dari Cisarua, hingga Pantai Klayar di Pacitan, karya ini betul-betul seketika saya ingin melukis di situ,” ujarnya.

Pameran tunggal perdana SBY di Surabaya ini juga menjadi bagian dari peluncuran buku monograf berjudul Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono. Buku tersebut digagas pengusaha Hermanto Tanoko dan disusun bersama kurator Suwarno Wisetrotomo.

 Peluncuran buku ini bertepatan dengan perayaan usia SBY yang ke-77 tahun. Buku monograf tersebut dikurasi oleh kurator ternama Suwarno Wisetrotomo, mantan Kurator Galeri Nasional Indonesia periode 1998–2024. Lewat wawancara mendalam bersama SBY, Suwarno menyusun rekam jejak, teknik kepelukisan, hingga latar belakang filosofis di balik penciptaan tiap-tiap karya.

Baca Juga :  TACO Kenalkan Isi Ratusan Koleksi Baru Katalog Explore New Horizons 

Gagasan pendokumentasian dan pameran ini pertama kali dicetuskan oleh pengusaha nasional Hermanto Tanoko. Kekagumannya pada rekam jejak kepemimpinan SBY serta konsistensi estetik sang presiden melahirkan ide mendokumentasikan karya-karya tersebut agar dapat dinikmati publik secara luas. Hermanto Tanoko menegaskan bahwa ada benang merah yang sangat erat antara dunia seni rupa dan manajemen kepemimpinan.

“Bagi saya, melukis dan mengelola bisnis memiliki filosofi dasar yang sama: keduanya membutuhkan visi yang jernih, kepekaan terhadap rasa, keberanian dalam mengambil keputusan, serta ketekunan dalam merajut setiap detailnya. Di balik perjalanan panjang Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai prajurit dan pimpinan bangsa, ternyata ada jiwa seniman yang sangat kuat,” tegas Hermanto Tanoko.

Pameran lukisan SBY di Voza Tower Surabaya ini dibuka secara gratis untuk umum setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.

Dari Surabaya untuk Apresiasi Seni yang Lebih Luas

Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan diharap menjadi salah satu titik penting bagi  pengembangan seni lukis Indoneisa. Semangat utama yang dibawa adalah kolaborasi dan  keterbukaan akses terhadap seni. Dengan menghadirkan karya-karya SBY kepada masyarakat,  pameran di Surabaya ini akan menumbuhkan ketertarikan baru terhadap seni lukis sekaligus  mendorong lahirnya lebih banyak ruang seni ke berbagai kalangan.

“Kita akan melihat sisi lain dari sosok Bapak SBY. Di balik perjalanan panjangnya sebagai seorang prajurit, negarawan, dan  pemimpin bangsa, ternyata ada jiwa seorang seniman,” pungkas Hermanto. (nov)