Antisipasi Karhutla Gunung Bromo Hingga Lawu, BPBD Jatim Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca Oktober 2026

oleh -366 Dilihat

KILASJATIM.COM, Sidoarjo — Badan Penanggulanga Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memprioritaskan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan pegunungan.

Sejumlah wilayah yang memiliki potensi risiko tinggi meliputi kawasan Gunung Bromo, Semeru, Arjuno, hingga Gunung Lawu.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Langkah ini dilakukan untuk memastikan OMC berjalan efektif saat potensi pertumbuhan awan mulai optimal.

“Wilayah yang menjadi prioritas di Bromo, Semeru, Arjuno, dan beberapa tahun lalu terjadi di Gunung Lawu. Jadi, itu yang menjadi prioritas kami,” ujar Gatot saat berada di Jemplang, Kabupaten Malang, Minggu (13/9/2026).

OMC Menunggu Rekomendasi BMKG dan Potensi Awan

Gatot menjelaskan bahwa hujan buatan atau OMC tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Operasi ini sangat bergantung pada keberadaan awan semai yang memenuhi syarat. Oleh karena itu, kepastian jadwal operasi sepenuhnya merujuk pada pemantauan BMKG.

​”Yang bisa memastikan adalah BMKG, sehingga tetap datanya didukung oleh mereka. Kami berharap bulan depan potensi awan mendukung,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengungkapkan bahwa kondisi awan saat ini belum memungkinkan untuk penyemaian.

“Rencananya (OMC) pada dasarian awal Oktober. Karena dari BMKG Juanda ada potensi awan di sisi selatan Jawa Timur,” jelas Satriyo.

Dukungan Irigasi dan Pertimbangan Bagi Petani Tembakau

​Selain difokuskan untuk mencegah dan memadamkan karhutla di wilayah pegunungan, OMC juga direncanakan untuk membantu ketersediaan air irigasi pertanian, khususnya di wilayah pantai utara (Pantura) Jawa Timur.

​Meski demikian, BPBD Jatim menegaskan bahwa OMC tidak akan diterapkan secara merata di seluruh daerah. Pemerintah daerah turut mempertimbangkan sektor pertanian lokal yang justru membutuhkan cuaca kering, seperti komoditas tembakau yang sedang memasuki masa panen.

Baca Juga :  Indonesia Dorong Kerja Sama Media ASEAN untuk Tingkatkan ASEAN Awareness

“Petani tembakau membutuhkan musim panas. Ini menjadi pertimbangan wilayah mana yang dilakukan OMC dan mana yang perlu water bombing,” terang Gatot.

24 Daerah di Jatim Berstatus Darurat Kekeringan

​Langkah mitigasi melalui teknologi modifikasi cuaca ini menjadi sangat krusial mengingat ancaman kekeringan di Jawa Timur kian meluas.

Dari total 38 kabupaten/kota di Jatim, sebanyak 24 kabupaten telah menetapkan status darurat kekeringan.

​Kondisi kekeringan panjang ini tidak hanya memicu ancaman kebakaran hutan di kawasan pegunungan, tetapi juga berpotensi merusak sistem irigasi dan mengganggu ketahanan pangan daerah.(ara)