KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sidoarjo mendorong pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di seluruh 346 desa dan kelurahan. Langkah ini dilakukan untuk mendekatkan layanan zakat kepada masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang diperkirakan mencapai Rp2,2 triliun per tahun.
Inisiasi tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Optimalisasi Pengumpulan ZIS Kabupaten Sidoarjo Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (9/9/2026).
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Mohammad Ainur Rohman mengatakan, pengumpulan ZIS di Kabupaten Sidoarjo selama ini telah berjalan dengan baik. Namun, potensi yang tersedia masih sangat besar untuk dikembangkan.
“Sekarang pengumpulan sudah maksimal, tapi belum optimal. Sudah baik, tapi perlu ditingkatkan,” kata Ainur dalam keterangan yang diterima Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, keberadaan UPZ hingga tingkat pemerintahan desa dan kelurahan menjadi salah satu kunci untuk memperluas jangkauan penghimpunan ZIS. Karena itu, seluruh kepala desa dan lurah didorong memfasilitasi pembentukan UPZ di wilayah masing-masing.
Penguatan kelembagaan tersebut juga mengacu pada Pasal 5 Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 24 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pengumpulan ZIS.
Ainur menyebutkan, berdasarkan hasil riset Baznas RI, potensi ZIS di Kabupaten Sidoarjo mencapai sekitar Rp2,2 triliun setiap tahun. Namun, potensi tersebut belum sebanding dengan realisasi penghimpunan yang saat ini dilakukan.
Data Baznas Kabupaten Sidoarjo mencatat total pengumpulan ZIS sepanjang 2025 mencapai Rp16,375 miliar. Nilai tersebut terdiri atas zakat sebesar Rp896,84 juta, infak dan sedekah Rp12,93 miliar, serta penerimaan lainnya Rp2,54 miliar.
Dari dana yang berhasil dihimpun pada 2025, Baznas Sidoarjo menyalurkan Rp11,507 miliar melalui lima pilar program utama.
Penyaluran terbesar berada pada program Sidoarjo Peduli dengan nilai Rp8,348 miliar. Dana tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan kemanusiaan, di antaranya program bedah rumah tidak layak huni (RTLH), bantuan sembako, hingga pemenuhan biaya hidup masyarakat dhuafa.
Sementara itu, program Sidoarjo Cerdas mendapatkan alokasi Rp1,599 miliar, Sidoarjo Taqwa Rp926,55 juta, Sidoarjo Sehat Rp461,45 juta, dan Sidoarjo Makmur sebesar Rp172,3 juta.
Kinerja penghimpunan juga terus berlanjut pada 2026. Dalam periode Januari hingga Juli 2026, total pengumpulan bersih ZIS Baznas Sidoarjo telah mencapai Rp8,556 miliar.
Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp8,111 miliar telah disalurkan kepada para penerima manfaat. Rasio efisiensi penyaluran mencapai 94,8 persen dan masuk kategori “sangat tinggi” berdasarkan standardisasi Baznas RI.
“Potensi zakat Sidoarjo yang mencapai Rp2,2 triliun setahun berdasarkan riset Baznas RI dapat kita garap bersama,” ujar Ainur.
Ketua Baznas Kabupaten Sidoarjo M. Chasbil Aziz Salju Sodar mengatakan, penguatan UPZ di tingkat desa dan kelurahan tidak semata-mata bertujuan meningkatkan penghimpunan ZIS.
Menurutnya, keberadaan UPZ juga diharapkan memastikan manfaat dana ZIS dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat di lingkungan sekitar.
“Dana ini akan digunakan langsung untuk membantu tetangga dekat kita yang membutuhkan bantuan bedah rumah, biaya berobat, beasiswa, hingga modal usaha mikro,” kata Chasbil.
Melalui pembentukan UPZ di seluruh desa dan kelurahan, Pemkab Sidoarjo dan Baznas berharap penghimpunan ZIS dapat semakin dekat dengan masyarakat sekaligus memperluas dampak sosial dari dana yang terkumpul.(TAM)
